NABI MUHAMMAD YANG PERTAMA KALI MEMPERINGATI MAULID

👁️ 124 kali dibaca

Oleh : K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D.

Banyak yang bertanya, siapa sesungguhnya yang pertama kali memperingati Maulid Nabi? Berbagai pendapat pun bermunculan.

Tetapi, sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW sendirilah yang memulainya. Yaitu ketika beliau selalu berpuasa sunnah pada Hari Senin (selain juga hari Kamis).

Bagi Nabi SAW, puasa hari Senin, diantara alasannya, karena Beliau dilahirkan pada hari itu.

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

Dari Abu Qatadah Al-Anshari RA, bahwa Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, maka beliau pun menjawab, “Di hari itulah saya dilahirkan, dan pada hari itu pula wahyu diturunkan atasku.” (HR. Muslim)

Ditegaskan lagi dalam riwayat hadis yang lain:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ وُلِدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَاسْتُنْبِئَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَتُوُفِّيَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَخَرَجَ مُهَاجِرًا مِنْ مَكَّةَ إِلَى الْمَدِينَةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَقَدِمَ الْمَدِينَةَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَرَفَعَ الْحَجَرَ الْأَسْوَدَ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ

Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Nabi ﷺ dilahirkan pada hari Senin, diangkat menjadi Nabi pada hari Senin, meninggal dunia pada hari Senin, keluar untuk hijrah ke Madinah pada hari Senin, sampai di Madinah pada hari Senin, dan mengangkat Hajar Aswad (saat renovasi Ka’bah) pada hari Senin.” (HR. Ahmad)

Sayyidah Aisyah RA ketika ditanya bagaimana dengan puasa sunnahnya Nabi, beliau menjawab:

كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الِاثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ

“Beliau selalu puasa Senin dan Kamis.” (HR. Ahmad)

Jadi, puasa sunnah tiap Senin, bagi Nabi adalah salah satu wujud kesyukurannya pada Allah.

Dalam hadis riwayat Imam At-Turmudzi juga disebutkan bahwa pada hari Senin dan Kamis catatan amal perbuatan dilaporkan kepada Allah, sehingga Rasul berharap agar pada hari ketika amal perbuatan dilaporkan dirinya sedang dalam keadaan berpuasa.

تُعرَضُ الأعمالُ يومَ الاثنينِ والخميسِ، فأُحِبُّ أن يُعرَضَ عملي وأنا صائم»
رواه الترمذي.

Maka, puasa sunnah Senin dan Kamis, sebagaimana yang disunnahkan oleh Nabi, akhirnya menjadi sunnah yang diteladani oleh umatnya sepanjang masa.

Jadi, barangsiapa yang berpuasa sunnah tiap Senin, selain mengikuti sunnah Nabi, maka itu pun bisa dikatakan sebagai bentuk memperingati Maulid Nabi.

Ada juga yang memperingatinya dengan cara mengkhatamkan Al-Quran sebagai bentuk kesyukuran dirinya atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Ini dilakukan sendiri-sendiri maupun berjamaah.

Ada pula yang mengekspresikan kesyukuran dan kebahagiaan dengan kelahiran Rasulullah dengan cara membuat bait-bait syair yang indah tentang sosok Nabi (madah). Maka, lahirlah ribuan karya sastra bernilai sangat tinggi tentang sosok Nabi yang Agung, Sang Kekasih Allah itu. Sebagian diantaranya masih populer di benak umat, dan bahkan dibacakannya berulang-ulang dalam berbagai kesempatan. Dihadirkanlah umat Nabi untuk ikut mendengarkan bait-bait madah kepada Beliau supaya umat merasakan pancaran keagungan Rasulullah SAW. Ini pun bisa dikatakan sebagai ekspresi bahagia dengan kelahiran Nabi SAW.

Ada pula yang memperingatinya dengan cara mengumpulkan masyarakat, lalu berbagi kebahagiaan melalui doa bersama, makan bersama banyak orang terutama para fakir miskin dan dhuafa, lalu diisi dengan tausiyah menjelaskan sosok pribadi manusia paling mulia di muka bumi ini.

Ada pula yang memperingatinya dengan sembunyi-sembunyi, tak ada orang yang tahu. Tetapi, ia berkeliling ke kampung-kampung mencari anak-anak yatim dan dhuafa lalu menyantuni mereka. Hal ini dilakukan karena yang demikian itu salah satu perintah Nabi yang sering diulang-ulang, dan yang sekaligus diteladankan sendiri oleh Beliau.

Namun demikian, yang justru paling penting dalam memperingati Maulid Nabi adalah kesediaan untuk meneladani keseluruhan ajaran dan akhlaknya. Sebagaimana seseorang yang mencintai orang lain, maka cintanya itu diekspresikan melalui berbagai tindakan yang dapat membahagiakan yang dicintainya. Cinta tanpa membahagiakan seringkali palsu.

Ketika Sayyidah Aisyah RA ditanya tentang bagaimanakah gambaran akhlak Rasul, beliau menjawabnya dengan tandas: “akhlaknya adalah Al-Quran.”

Berarti, mencintai Rasul SAW ekspresi tertingginya adalah menjalani perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan sebagaimana dalam Al-Quran.

وَمَاۤ ءَاتَاكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُوا۟ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِیدُ ٱلۡعِقَابِ [سُورَةُ الحَشۡرِ: ٧]
Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya. (Qs. Al-Hasyr [59]: 7)

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِی یُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَیَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورࣱ رَّحِیمࣱ [سُورَةُ آلِ عِمۡرَانَ: ٣١]
Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Qs. Ali Imran [3]: 31)

Maka, silahkan masing-masing mengekspresikan kegembiraan dan kesyukuran dengan kelahiran Sang Penutup Para Rasul itu. Pada intinya, kegembiraan dan kesyukuran kita dengan kelahiran Rasulullah SAW jangan hanya berhenti pada seremonial dan lisan, namun juga terwujud dalam tindakan.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن اهتدى بهديه الي يوم الدين.

@anangrikza
Tazakka, 12 Rabiul Awal 1448 H
25 Agustus 2026

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *