Lima Pilar Pembentukan Pemimpin di Pesantren

👁️ 11 kali dibaca

Oleh: K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D.

Pada Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy tahun 2026 ini, Tazakka mengambil tema: “Pendidikan Holistik Pesantren Menyiapkan Pemimpin Bangsa di Masa Depan”. Maka, izinkan kami menguraikan lima elemen yang menjadikan pesantren sebagai laboratorium pembentukan pemimpin.

  1. Kemandirian
    Asrama bukan sekadar tempat tidur, melainkan medan latihan hidup mandiri. Setiap santri dipaksa oleh keadaan untuk mengambil keputusan sendiri, menyelesaikan masalahnya sendiri, dan bertanggung jawab atas dirinya sendiri sebagai sifat pertama yang wajib dimiliki seorang pemimpin.
  2. Keteladanan atau Uswah
    Kepemimpinan di pesantren tidak hanya diajarkan lewat teori di atas kertas, melainkan juga lewat kedekatan santri dengan sosok kiai dan para ustadz. Santri belajar memimpin dengan melihat langsung bagaimana dipimpin dengan penuh keteladanan.

Ketika santri diberi ruang untuk berkhutbah dan memimpin shalat seluruh santri di masjid, maka ia juga melihat bagaimana kiainya berkhutbah dan memimpin shalat. Ketika mereka diberi ruang untuk memimpin kehidupan santri melalui organisasi asrama, konsulat atau Organisasi Pelajar Pondok Modern, maka mereka juga melihat dan merasakan bagaimana kiai dan para ustadznya menjalankan kepemimpin dan mengelola pesantren. Belajar dipimpin dan memimpin. Siap memimpin dan siap dipimpin.

  1. Ukhuwwah
    Di pesantren ini, santri hidup berdampingan secara harmonis lintas suku, daerah, adat istiadat, bahasa, budaya, hingga latarbelakang sosial dan ekonomi. Bahkan, pengelompokan kamar dan asrama tidak boleh dalam satu daerah yang sama, tujuannya supaya mereka belajar membaur dan beradaptasi dalam kehidupan bersama. Belajar hidup dalam keragaman sekaligus mengelola keragaman itu menjadi harmoni dalam bingkai ukhuwwah Islamiyyah.
  2. Organisasi Santri
    Melalui kepengurusan di Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM), santri diberi kepercayaan nyata untuk mengelola kegiatan, menyelesaikan konflik antarteman, mengelola ide dan gagasan bersama, dan bertanggung jawab atas amanah yang diembannya.

Melalui OPPM, santri dilatih mengelola hampir semua sektor kehidupan: mulai dari mengelola kegiatan santri, mengelola makan dan minum untuk ribuan santri, mengelola disiplin, berbahasa resmi Arab dan Inggris, hingga mengelola kantin dan unit-unit usaha pesantren serta infrastruktur berikut turunannya. Di sinilah kepemimpinan dilatih bukan sebagai wacana, tetapi sebagai pengalaman hidup.

  1. Disiplin dan Tirakat
    Ibnu Khaldun menyebutnya malakah — karakter yang terbentuk bukan dari pemahaman sesaat, melainkan dari pembiasaan yang berulang-ulang hingga mengakar menjadi watak. Disiplin waktu, disiplin ibadah, dan kesediaan menahan diri adalah fondasi yang kelak menopang seorang pemimpin ketika ia diuji oleh godaan kekuasaan dan jabatan.

Lima elemen pembentukan pemimpin di atas didesain secara terstruktur, sistematis, dan berulang-ulang dengan penekanan pada high quality control. Anders Ericsson, profesor psikologi dari Florida State University, Amerika Serikat dan dikenal sebagai perintis riset ilmiah tentang keahlian (expertise) dan performa tinggi, menemukan bahwa keahlian tinggi bukan sekadar soal jam terbang mentah, tapi latihan terstruktur dengan umpan balik yang jelas dan fokus. Dari konsep ini, Malcolm Gladwell mempopulerkan teori “10.000 jam latihan” untuk melahirkan keahlian. Meskipun, Ericsson kembali menekankan bahwa yang penting adalah kualitas latihan, bukan sekadar durasi.

Dalam sistem pendidikan di Pondok Modern Tazakka, dimana para santri mulai mengisi panggung-panggung kepemimpinan di kelas IV, V, dan VI KMI, maka jika latihan dan pengalaman kepemimpinannya itu dikonversi ke dalam waktu akan menghasilkan lebih dari 19.000 jam, dua kali lipat dari teori Ericsson dan Malcom Gladwell.

Keahlian atau expertise bukan bakat bawaan, melainkan hasil pengalaman panjang dan latihan-latihan yang terfokus, ditambah lagi dengan feedback spesifik dari para asatidz musyrif sebagai pelatih berpengalaman sebagai syarat mutlak deliberate practice yang membimbing dan mendampinginya selama 24 jam sehari.

Inilah yang dalam tradisi pesantren disebut Ma’iyyah: pendampingan dekat, bukan pengawasan jarak jauh, di mana musyrif bisa langsung menunjukkan di mana kesalahan terjadi dan bagaimana memperbaikinya.

*Disampaikan dalam amanat Pimpinan pada Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatul Arsy Pondok Modern Tazakka, Ahad, 19 Juli 2026

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *