HIJRAH MAKNAWIYAH

👁️ 25 kali dibaca

Oleh: Alam Mahardika

Saat ini, kita berada di akhir bulan Dzulhijjah, bulan terakhir dalam kalender Hijriah. Artinya, sebentar lagi kita akan memasuki bulan baru di tahun yang baru yaitu bulan Muharram 1448 Hijriah. Tahun baru ini adalah kesempatan bagi kita untuk muhasabah atau mengintrospeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih mulia di sisi manusia dan juga Allah SWT.

Pergantian waktu sejatinya merupakan hal yang biasa bagi kita sebagai orang yang beriman. Namun, pergantian tahun bisa menjadi salah satu penanda waktu dalam proses kehidupan. Pergantian tahun adalah pengingat bahwa usia manusia semakin berkurang dan waktu menuju akhirat atau kematian semakin dekat. Pergantian tahun juga bisa menjadi momentum untuk membuka lembaran baru dengan meningkatkan kualitas ibadah, memperbanyak amal saleh, dan membersihkan hati.

Namun, makna paling penting dari pergantian tahun baru Hijriah bagi umat Islam adalah momentum untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri) dan hijrah—yakni berpindah dari kebiasaan atau kondisi yang kurang baik menuju pribadi yang lebih taat, bermanfaat, dan diridhai Allah SWT.

Jika dahulu Rasulullah dan para sahabat melakukan hijrah makaniyah dari Makkah menuju ke Madinah, berhijrah menyelamatkan kaum muslimin dari persekusi dan ancaman dari kafir Quraish menuju peradaban Islam yang merdeka. Maka, semangat hijrah yang harus kita hidupkan pada momentum tahun baru Hijriah adalah semangat melakukan hijrah maknawiyah.

Hijrah maknawiyah adalah perpindahan spiritual dan moral. Ini berarti meninggalkan segala perbuatan tercela, dosa, dan hal-hal yang dilarang Allah SWT menuju jalan kebenaran, ketaatan, serta perilaku yang lebih baik. Hijrah ini berfokus pada transformasi mental dan spiritual seseorang, bukan sekadar berpindah tempat. Transformasi spiritual ini mencakup beberapa aspek penting dalam kehidupan seorang Muslim diantaranya adalah:

Pertama adalah Hijrah I’tiqadiyah (Keyakinan): Memperbaiki akidah dan memperkuat keimanan agar terhindar dari keraguan atau penyimpangan. Akar iman mengalami proses naik dan turun, kuat dan lemah, malas dan semangat. Maka alangkah baiknya bahwa hijrah keyakinan dapat dilakukan jika kenyakinan berada di tepi jurang kekufuran senantiasa untuk menguatkan fondasi Iman.

Kedua adalah Hijrah Fikriyah (Pola Pikir): Mengubah cara berpikir dari yang negatif (su’udzon) menjadi positif (husnudzon), serta memperluas wawasan keislaman. Seiring dengan berkembangnya zaman, majunya dunia teknologi dan derasnya arus informasi, seolah dunia semakin luwes dan beresiko lebih bebas. Oleh karena itu hijrah fikriyah harus dilakukan dengan meninggalkan pemikiran-pemikiran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang menimbulkan mudharat.

Ketiga adalah Hijrah Sulukiyah (Perilaku): Memperbaiki akhlak dan tingkah laku sehari-hari agar sesuai dengan tuntunan agama. Akhlak manusia mengalami perubahan berdasarkan perubahan nilai yang ada di masyarakat dari faktor lingkungan atau budaya. Sehingga tidak aneh jika bermuculan berbagai tindak moral, asusila, dan kekerasan di masyarakat.

Oleh karena itu hijrah Sulukiyah harus dapat dilakukan ketika akhlak yang tercela berkembang dan menyebar di lingkungan sekitar. Agar kelak kehidupan bermasyarakat dapat menjadi aman, tenteram, damai, dan semakin meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT.

Terakhir adalah Hijrah Syu’uriyah (Cita Rasa): Meninggalkan kesenangan atau hobi yang kurang bermanfaat dan beralih kepada hal-hal yang mendatangkan ridha Allah. Sebagai manusia kita sering terpengaruhi oleh kesenangan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan melenceng. Akhirnya justru menjauhi kewajiban dan mendekatkan diri kepada apa yang dilarang. Oleh karenanya saat menjauh dari jalan kebaikan kita bergegas untuk hijrah syu’uriyah menuju ke jalan yang lurus.

Itulah spirit hijrah maknawiyah yang harus kita hidupkan di pergantian tahun ini. Perbaiki niat kita di awal pergantian tahun ini untuk berhijrah dengan memperkuat keimanan dan ketaqwaan, memperbaiki pola pikir menuju pemikiran yang positif, menghiasi diri dengan akhlak dan adab yang mulia, serta menjaga rasa dan hati agar selalu berada di jalan kebaikan yang diridhai oleh Allah SWT.

Mari kita jadikan pergantian tahun baru Hijriah sebagai momentum spiritual untuk melakukan muhasabah (introspeksi diri), memperbaharui niat, dan mentransformasi diri menjadi pribadi yang lebih baik dengan hijrah maknawiyah. Jadikan ini sebagai momentum memupuk ketakwaan dengan meninggalkan segala bentuk perilaku, kebiasaan, dan dosa yang dilarang oleh Allah SWT menuju ketaatan dan akhlak yang mulia.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *