SUKSES UJIAN DENGAN IKHLAS DAN JUJUR; KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag.

SUKSES UJIAN DENGAN IKHLAS DAN JUJUR; KH. Syamsul Hadi Abdan, S.Ag.

Mungkinkah sebuah perhelatan ujian yang melibatkan ribuan siswa dapat dilaksanakan nyaris tanpa uang? Alhamdulillah, selama lebih 85 tahun perjalanannya dalam jihad pendidikan, Gontor dapat melakukannya. Kami bersyukur ‘sunnah’ Gontor seperti ini masih dapat dipertahankan dengan baik hingga saat ini.

Semua proses dan kegiatan yang terkait ujian di Gontor tidak ada yang diperhitungkan dengan uang. Mulai dari tenaga, pikiran, membuat soal, menguji ujian syafahi (lisan), mengawasi ujian tahriri (tulisan), mengoreksi, dan lain sebagainya. Semua itu tidak terkait dengan uang. Para pelaksanaanya tidak dibayar dengan uang.

Mengapa bisa? Sejak Gontor berdiri hingga sekarang, ada nilai-nilai luhur yang dita­nam­ dan terus dipertahankan sebagai jiwa Gontor, salah satunya keikhlasan. Memang, keikhlasan tidak bertolak belakang dengan uang (bayaran). Akan tetapi, dengan keikhlasan yang menjiwai setiap kegiatan, uang tidak menjadi penentu terlaksananya suatu program atau kegiatan sepenting ujian.

Keikhlasan model Gontor ini tidak hanya berlaku untuk pani­tia dan penyelenggara ujian, yang melibatkan seluruh guru dan santri senior. Tapi juga berlaku untuk seluruh jajaran direksi­ dan pimpinan Pondok Modern Gontor. Tidak ada Kiai yang menerima uang pelaksanaan ujian, atau semisalnya. Keikhlasan seperti itulah yang membuat penyelenggaraan ujian menjadi sukses dan semua pihak yang terlibat merasa nyaman dan ringan.

Di luar Gontor, budaya keikhlasan seperti ini barangkali sulit dibayangkan. Apalagi di tengah arus budaya materialistik, ujian bisa dipandang sebagai ladang untuk memanen penghasilan tambahan.

Sukses karena ikhlas dan jujur.

Ujian yang sukses adalah paduan dari keikhlasan dan kejujuran. Bagi Gontor, kejujuran dalam ujian merupakan prinsip dasar yang harus ditegakkan. Di saat pendidikan nasional kita ternoda dengan kasus seperti pembocoran soal ujian, Gontor sama sekali tidak mengenal kasus seperti itu. Gontor sangat tegas, jika terjadi pembocoran soal, maka pelakunya pasti kita usir dari Pondok. Jika ada santri yang menyontek, maka dia pasti kita usir dari Pondok.

Alhamdulillah, kejujuran para guru dan santri di Gontor berjalan dengan lurus. Santri yang diuji belajar menurut kemampuannya, sehingga nilai yang dia dapat pun sesuai dengan kemampuan dirinya dalam menjawab soal-soal ujian. Nilai di Gontor asli. Tidak ada rekayasa, tidak ada tambahan, dan tidak ada pengurangan. Karenanya, fenomena santri yang lulus dan tidak lulus adalah biasa di Gontor.

Ada pesan yang sangat berat dari Rasulullah SAW kepada kita, termasuk dalam memberi nilai ujian kepada siswa, “Fa’thi kulla dzi haqqin haqqah” (berilah setiap orang sesuai hak yang harus didapatkannya). Artinya, penambahan atau —jika ada pengurangan nilai ujian siswa adalah tindak kezaliman dan melanggar pesan Rasulullah SAW.

Kami justru heran bila dalam suatu ujian, kelulusan siswa mencapai 100 %. Padahal dalam faktanya itu tidak mungkin terjadi. Lagi pula fungsi ujian itu adalah untuk menyeleksi kesungguhan dan kemampuan siswa dalam belajar, yang sudah barang tentu tidak mungkin sama. Allah menyatakan dalam Al-Qur’an, surah Aali `Imran ayat 179, “Hatta yamiza al-khabits minat thayyib” (hingga Dia memisahkan unsur buruk dari unsur baik)

Banyak faktor yang dapat mendorong fenomena ini terjadi. Tapi pada intinya, pendidikan masa kini telah kehilangan jiwa dan arah. Bisa kita lihat ketika banyak siswa yang memprotes sekolah karena dinyatakan tidak lulus ujian, atau orang tua yang berdemo karena hal yang sama, atau karena faktor sekolah sendiri yang takut kehilangan murid jika tidak meluluskan mereka. Alhamdulillah, semua itu tidak terjadi di Gontor.

Mempertahankan keikhlasan dan kejujuran, serta menerapkannya tidaklah mudah. Butuh pembiasaan keikhlasan dan kejujuran secara terus menerus, tanpa lelah, dalam setiap gerak aktivitas Pondok. Walhasil, ujian di Gontor bisa berjalan sesuai dengan fitrahnya. Kita harus bisa berbuat lebih baik daripada orang lain. Jika orang lain tidak dapat menyelenggarakan ujian tanpa uang, kita harus dapat menyelenggarakannya tanpa perhitungan uang. Jika orang lain melakukan kecurangan dalam ujian, kita harus menerapkan kejujuran dalam ujian.

Alhamdulillah, di Gontor, beberapa hal yang sulit dilaksanakan di luar menjadi niscaya, bahkan menjadi rutinitas dan budaya. Semua ini patut kita syukuri. Ingat kata Pak Zar (Alm. KH Imam Zarkasyi, red.), “Biar dunia luar ‘terbakar’, tetapi pondok kita jangan ikut-ikutan dunia luar, seperti mencontek, berlaku curang, tidak ada keikhlasan, dan tidak ada kejujuran.”