TIGA JENIS KEDZALIMAN

TIGA JENIS KEDZALIMAN

Ada tiga jenis kedzaliman: dzalim kepada Tuhan, dzalim kepada diri sendiri dan dzalim kepada orang lain. Dzalim kepada Tuhan bentuknya adalah syirik, yaitu menyekutukan Allah dengan yang lain; membuat tuhan-tuhan baru yang dijadikan berhala untuk diagungkan, dimuliakan, dan ditakuti layaknya Tuhan ‘Rabbul ‘Alamiin’.

Harta, tahta dan wanita, jika ketiganya mampu memperbu­dak­ kita dan melalaikan dari mengingat Allah, maka itu sudah dikategorikan syirik. Orang yang berdagang sehingga lupa shalat, berpolitik namun lupa halal haram, bermasyarakat lupa seruan Allah untuk bersatu, itu pun oleh sebagian ulama termasuk kategori syirik; yaitu menduakan dan mengabaikan perintah Allah.

Lebih percaya dan takut kepada dukun, paranormal, cincin, keris, atau bahkan lebih takut kepada atasan daripada kepada Allah dalam menjalankan syariat-Nya, itu juga syirik. Apalagi takut kehilangan wibawa, takut kehilangan jabatan, takut popularitasnya hilang, jika itu semua dilakukan dengan cara menabrak larangan Allah dan mengabaikan perintah-Nya, maka termasuk syirik. Seharusnya tidak boleh ada ketakutan kecuali takut kepada Allah, takut tidak mendapat ridho-Nya, takut kepada ancaman siksa neraka-Nya dan takut Allah akan menurunkan murka-Nya.

Termasuk syirik adalah ragu akan kebenaran Al-Quran, dan oleh karenanya orang demikian disebut orang zalim. Ada orang yang percaya kepada kebenaran Al-Quran tetapi dengan mengatakan bahwa Al-Quran belumlah sempurna; bahwa Al-Quran tidak kontekstual, dan lain sebagainya, itu termasuk bentuk kedzaliman.

“Sebenarnya, Al-Quran itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang yang berilmu. Hanya orang-orang yang dzalim yang mengingkari ayat-ayat Kami.” (Qs. Al-Ankabut [29]: 49) “Sesungguhnya, Al-Quran ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang mukmin yang mengerjakan amal shaleh bahwa bagi mereka pahala yang besar.” (Qs. Al-Isra [17]:9)

Kedzaliman kedua adalah kepada diri sendiri melalui dosa-dosa kecil yang kita kerjakan, termasuk di dalamnya adalah mengabaikan setiap peluang untuk maju & berprestasi. Siswa yang malas belajar sehingga tidak berhasil, pegawai yang tidak punya dedikasi dan inisiatif sehingga kariernya terhambat, pedagang yang kurang amanah sehingga sepi pengunjung, adalah termasuk jenis kedzaliman pada diri sendiri. Itu sebagian contoh saja, yang lainnya masih banyak.

Kedzaliman ini masih bisa diampuni asal kita bertobat dan mohon ampunan kepada Allah. Nabi Adam dan Hawa pernah berdoa, “Ya Tuhan, kami telah berlaku dzalim pada diri sendiri, maka jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, maka sungguh kami akan merugi.” ( Qs. mostbet turkiye bahis mostbet-turkiye.com para yatırma bonusu. Al-A’raf [7]: 23)

Adam dan Hawa merasa bersalah karena telah mengerjakan apa yang  dilarang Allah, yaitu untuk tidak mendekati dan memakan buah pohon khuldi di surga, tetapi karena dibujuk terus dan digoda oleh setan akhirnya Adam dan Hawa terpengaruh dan tergelincir.

Makanya, kita dibimbing untuk selalu minta petunjuk dan pertolongan-Nya, karena manusia bukanlah makhluk sempurna yang tak pernah salah. Kita juga dibimbing agar selalu memohon perlindungan Allah dari godaan setan yang terkutuk. Namun, anehnya meskipun kita sudah menegaskan berkali-­kali bahwa setan itu terkutuk dan merupakan musuh nyata, tetapi masih saja kita merasa nyaman dan terus-menerus bersahabat de­ngannya dalam gelimang maksiat dan dosa.

Namun demikian, sebagai manusia yang lemah dan tak luput dari kesalahan, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah tetap saja membimbing kita untuk selalu memohon kepada-Nya agar tidak dihukum jika lupa atau salah. “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 286)

Kedzaliman ketiga adalah kedzaliman kepada orang lain, yaitu melalui sikap dan tindakan yang berpotensi merugikan orang lain serta merusak tatanan sosial kemasyarakatan. Islam mengutuk keras segala tindakan yang dampaknya merugikan orang lain. Misalnya dalam berdagang: “Celaka besarlah bagi orang-orang yang curang, yaitu apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi; dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (Qs. Al-Muthaffifin [83]: 1-3)

Termasuk jenis ini adalah pemimpin yang korup, suami atau istri yang tidak bertanggungjawab pada keluarganya, guru atau ulama yang tidak sungguh-sungguh dalam mendidik umat, dan lain sebagainya.

Pemimpin korup dan menipu rakyat yang bekerja bukan untuk kepentingan rakyat tetapi memupuk kekayaan diri sendiri. Sebagaimana halnya pemimpin, ulama pun yang mestinya menjadi panutan dan pemersatu umat, namun jika malah melakukan tindakan menyimpang secara demonstratif dan memecah-belah umat dengan provokasi-provokasinya, maka jelas ini sebuah kedzaliman yang luar biasa.

Kedzaliman jenis ini harus dicegah secara sosial, supaya tidak menimbulkan kerusakan yang meluas di masyarakat. Maka, di sinilah amar ma’ruf nahi mungkar harus ditegakkan. Perlu dilakukan nasehat-nasehat kepada para pemimpin, karena inti agama adalah nasehat; yaitu nasehat kepada kebenaran dan kebaikan.

Sebab, jika tidak dicegah, maka Allah akan menurunkan murka-Nya kepada semuanya. “Waspadalah kamu terhadap bencana yang sama sekali tidak secara khusus menimpa hanya mereka yang dzalim saja diantara kamu.” (Qs. Al-Anfal [8]:25) Artinya, mereka yang baik-baik pun akan tertimpa pula. Maka, mencegah kedzaliman di masyarakat merupakan tugas & tanggungjawab semua.

“Saling nasehat menasehatilah dalam kebenaran, dan saling nasehat menasehatilah dalam kesabaran.”