KEBENARAN MAKSIMAL

KEBENARAN MAKSIMAL

Dalam banyak ayat, Al-Quran mendorong setiap manusia untuk terus mencari kebenaran. Dalam terminologi bahasa Arab, kebenaran itu biasanya diungkapkan dalam bentuk kata “al-haqq”. “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang yang ragu.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 147) ‘Al-haqq’ artinya kebenaran yang bersifat mutlak dari Allah SWT.

Adapun kebenaran yang dicapai oleh nalar manusia tentu saja beragam dan bertingkat-tingkat. Saya ingin memberikan beberapa contoh melalui pernyataan- pernyataan berikut ini yang jamak beredar di masyarakat.

1. Sedekah sedikit tetapi ikhlas lebih baik daripada banyak tetapi tidak ikhlas.

2. Sedekah banyak dan ikhlas lebih baik daripada sedikit tetapi tidak ikhlas.

3. Sedekah banyak dan ikhlas lebih baik daripada sedikit ikhlas. Pertanyaannya, manakah yang paling benar atau paling afdhol (utama) dari pernyataan-pernyataan tersebut? Hemat saya, semua ungkapan tadi bisa jadi benar semua.

Pernyataan pertama adalah contoh kebenaran minimalis: sedikit ikhlas lebih baik daripada banyak tetapi tidak ikhlas. Dengan kata lain, ikhlas tapi sedikit.

Pernyataan kedua mungkin derajatnya sedang: banyak dan ikhlas lebih baik daripada sedikit tetapi tidak ikhlas. Pernyataan ini dimafhumi bersama dan tidak ada yang luar biasa. Akan tetapi, pernyataan ketiga, banyak dan ikhlas lebih baik daripada sedikit ikhlas. Dengan kata lain, semuanya ikhlas, ada yang banyak dan ada yang sedikit.

Pernyataan ketiga, menurut saya adalah contoh kebenaran maksimalis; kuantitas dan kualitas. Ikhlas itu menyangkut kualitas, sedangkan sedikit atau banyak itu soal kuantitas. Ikhlas itu bukan soal tampak atau tersembunyi, tetapi soal kemantapan dan ketulusan hati. Menampakkan atau menyembunyikan lebih kepada soal cara. Ikhlas itu sesuatu yang sangat substantif. “Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang kafir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.

Dan Allah akan menghapuskandarikamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al- Baqarah [2]: 271) “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan di penerima), mereka memperoleh pahala disisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 262) Meskipun banyak, tetapi kalau masih menyebutnyebut dan mengungkit-ungkit pemberian tanpa alas an yang dibenarkan syariat, maka jelas hal demikian merupakan contoh tidak ikhlas. “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baikbaik dan sebagian apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih-milih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 267) Memilih yang buruk-buruk atau barang sisa untuk disedekahkan, yang kita sendiri sudah tidak suka, itu contoh kebenaran minimalis.

Sedekahnya benar, tapi yang disedekahkan tidak berkualitas. Maka dari itu, termasuk dalam pengertian ikhlas adalah totalitas. Orang yang ikhlas akan mengerahkan kemampuan puncaknya dalam mengerjakan sesuatu. Dengan kata lain, orang yang ikhlas itu ciri utamanya adalah maksimalis. Mukmin yang benar dituntut untuk melakukan segala sesuatunya secara maksimal: maksimal dalam beribadah, beramal shaleh, berpikir, berbuat, dan berdoa. Seringkali orang baik yang minimal dapat dikalahkan oleh orang jahat yang maksimal.

Oleh karenanya orang baik harus kuat dan kompak; kebaikan harus diupayakan secara maksimalis dan dilakukan secara bersinergi. Jangan sampai suatu kebenaran dan perbuatan baik dikalahkan oleh suatu kejahatan hanya karena kebenaran dan kebaikan itu tidak diupayakan secara maksimal.