PILAR KEPEMIMPINAN DI TAZAKKA

👁️ 16 kali dibaca

Oleh: Alam Mahardika

Dalam cetak biru Pondok Modern Tazakka yang dituangkan dalam The Tazakka Way terdapat 5 pilar utama yaitu: nilai-nilai, sistim, sumber daya insani, sarana prasarana dan kepemimpinan. Kelima pilar itu berdiri di atas pondasi visi misi, motto, orientasi, Panca Jiwa, Panca Jangka, strategi, dan beragam prinsip kerja yang selalu ditanamkan kepada seluruh keluarga besar Tazakka.

Ada sisi menarik yang sangat krusial dalam sebuah lembaga, khususnya di Tazakka bahwa leadership atau kepemimpinan menjadi salah satu pilar utama. Hal ini tentu karena salah satu platform yang dibangun oleh Tazakka adalah sebagai pesantren pencetak kader-kader pemimpin umat dan juga perekat umat dengan slogannya ‘We build for the future’.

Di Tazakka, kepemimpinan di level pesantren tidak bersifat tunggal, tetapi kolektif kolegial. Sebagaimana Gontor dan juga beberapa pesantren modern yang bersistem mu’allimin memang Pimpinannya tidak hanya satu orang, ada yang dua orang atau bahkan tiga orang. Hal ini tentu berbeda dengan pesantren tradisional yang lebih memilih kepemimpinannya bersifat sentralistik (terpusat pada figur kiai tunggal).

Mengapa demikian? Karena kepemimpinan kolektif kolegial pada pesantren modern menitikberatkan perhatiannya pada sistem dan kelembagaan. Sehingga membutuhkan menejemen, keberlangsungan lembaga, dan pembagian tugas, peran, dan tanggungjawab dalam memimpin dan mengelola pesantren.

Kepemimpinan kolektif kolegial juga menempatkan para pimpinan sebagai mitra sejawat yang setara, yang bersama-sama mengambil keputusan strategis melalui musyawarah. Ini tentunya akan mengurangi beban moral dan tanggung jawab satu orang kiai saja.

Sistem kolektif juga dapat membantu menjaga fokus pada nilai-nilai dan peraturan pondok daripada keterikatan emosional pada individu kiai tertentu. Sehingga tidak ada kultus individu atau bahkan ketergantungan kepada kharisma satu figur. Bahkan, kepemimpinan kolektif ini dapat memastikan bahwa jika satu pemimpin wafat atau berhalangan, pesantren tetap berjalan tanpa mengalami konflik suksesi atau stagnasi.

Selain bersifat kolektif kolegial, kepemimpinan di Tazakka juga mengedepankan distribusi peran, tanggung jawab, dan tugas yang tertuang dalam struktur kelembagaan dengan tetap menjaga kultur pesantren.

Struktur di Tazakka sendiri terdapat beberapa lembaga yang dipimpin oleh seorang direktur yang membawahi beberapa departemen di bawahnya. Ada juga beberapa departemen yang berada langsung di bawah Pimpinan. Setiap departemen tersebut dipimpin oleh seorang kepala departemen yang membawahi beberapa bagian maupun sub bagian di bawahnya.

Karena salah satu jangka dari Panca Jangka yang ada adalah kaderisasi, maka kepemimpinan di Tazakka juga memastikan adanya kepemimpinan berjenjang yang sudah dididik dan diajarkan di level santri bahkan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan pondok. Harapannya ketika mereka menjadi guru, mereka sudah mampu memimpin di level masing-masing sesuai dengan tugas, peran, dan fungsinya.

Kepemimpinan berjenjang ini dikemas dalam manajemen organisasi santri maupun struktur pondok yang terstruktur, hierarkis, dan bertahap, mulai dari tingkat pimpinan tertinggi yaitu Kiai, kemudian para guru, hingga santri di tingkat dasar. Sistem ini bertujuan untuk mencetak kader pemimpin yang matang melalui praktik langsung, disiplin, berkarakter, memiliki integritas, dan tanggung jawab, bukan hanya sekadar teori.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *