Alam Mahardika
Pesantren sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam memiliki cita-cita mulia yaitu memberikan pendidikan dan pengajaran yang komprehensif dan integratif guna melahirkan calon-calon pemimpin umat masa depan. Pengajaran dilaksanakan dengan skema transfer ilmu, adapun proses pendidikan dengan pola transfer nilai-nilai dalam beragam kegiatan yang didesain dalam totalitas kehidupan pesantren selama 24 jam.
Desain pendidikan dan pengajaran tersebut haruslah terukur dan terstruktur dengan tidak meninggalkan kultur pesantrennya. Maka, dalam pesantren dikenal kurikulum yang tertulis atau written curriculum dan kurikulum yang tersembunyi atau hidden curriculum. Namun, keduanya dilaksanakan secara terpadu dan terprogram dalam bentuk core and integrated curriculum.
Pada pesantren dengan sistem KMI seperti Gontor dan Tazakka, juga pesantren lainnya yang senafas, mereka melihat bahwa kurikulum bukanlah sekedar susunan mata pelajaran di dalam kelas, tetapi meliputi seluruh program dan kegiatan pendidikan yang dilaksanakan dengan pendekatan intrakurikuler, ko-kurikuler, maupun ekstrakurikuler, atau lebih dikenal dengan pendidikan akademik atau non akademik.
Berikut adalah beberapa pola-pola pendidikan yang dilakukan oleh Gontor dan Tazakka yang didesain dalam bentuk hidden curriculum yang diberikan kepada para santri.
Keteladanan atau Uswah Hasanah
Metode ini sangat penting dalam proses perkembangan kepribadian santri. Maka, Pimpinan atau Kiai dan juga para guru dituntut untuk menjadi teladan dalam seluruh aspek kehidupan seperti keilmuan, wawasan, pergerakan, sikap, akhlak, kepemimpinan, ibadah, pakaian, dan juga kedisiplinan.
Pembiasaan
Salah satu cara dalam membentuk character building santri adalah dengan proses pembiasaan. Para santri dibiasakan untuk hidup disiplin dan berakhlak mulia. Maka, kedisiplinan bagi santri merupakan salah satu nilai utama yang harus dipegang dalam meraih kesuksesan.
Learning by Doing
Metode ini banyak sekali digunakan dalam proses pendidikan di pesantren. Dengan metode ini diharapkan nilai-nilai pendidikan dapat langsung dirasakan oleh para santri saat mereka melaksanakan kegiatan dan aktivitas yang diprogramkan.
Namun, dalam pelaksanaannya juga dibutuhkan pengarahan, pengawalan dan evaluasi agar semua kegiatan yang diprogramkan dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Maka butuh internalisasi nilai-nilai pendidikan di dalamnya seperti keikhlasan, kesungguhan dan totalitas.
Leadership
Kepemimpinan juga menjadi bagian penting dari proses pendidikan di pesantren. Apalagi cita-cita pesantren adalah melahirkan calon pemimpin umat masa depan. Pendekatan ini pun dilakukan dan dikembangkan di berbagai lini, terutama bagi santri senior.
Organisasi santri seperti OPPM dan Koordinator Gerakan Pramuka menjadi sarana utama mereka menjadi calon pemimpin. Mereka dididik untuk mengelola kehidupan santri selama 24 jam, mulai dari tidur sampai tidur lagi. Selain itu juga ada organisasi kecil lainnya sebagai laboratorium latihan kepemimpinan seperti organisasi asrama, konsulat, klub, kursus, kepanitiaan dan bahkan di kelas sekalipun.
Hidden Curriculum adalah efek samping pendidikan yang paling berkesan dalam proses internalisasi nilai atau transfer value. Dan lingkungan pesantren dengan tri pusat pendidikannya merupakan tempat yang tepat dalam mendidik jiwa dan ruh para santri dengan pola keteladanan, pembiasaan, learning by doing, dan leadership.




