LESSON FROM TOYOTA

👁️ 11 kali dibaca

Toyota memiliki The Toyota Way. Sebuah platform perusahaan. Lalu, menjadi sebuah corporate culture, budaya perusahaan. Sehingga, Toyota bukan saja eksis, tapi berkembang dan maju. Sehingga sampai saat ini mobil Toyota beredar di penjuru dunia.

Tetapi, kata Toyota sendiri, The Toyota Way bukan sekedar prinsip-prinsip manajemen an sich. Ia adalah sebuah pendekatan holistik bagaimana Toyota menjalankan bisnisnya, membangun dan merawat relasinya, dan yang penting lagi, bagaimana Toyota membangun sumber daya manusianya.

Mindset Toyota, di Tazakka, diadopsi dengan berbagai modifikasi yang kemudian melahirkan The Tazakka Way. Jika The Toyota Way didasarkan pada empat prinsip: filosofi, SDM & mitra, proses dan solusi, maka The Tazakka Way mendasarkannya pada lima pilar penyangga: nilai-nilai, sistem, SDM, sarpras dan kepemimpinan.

2 prinsip utama dan 14 prinsip dalam The Toyota Way bisa diadopsi dan dikontekstualisasikan dalam manajemen kepesantrenan. Misalnya saja: filosofi jangka panjang, aliran proses berkelanjutan, membangun budaya berhenti untuk memperbaiki masalah, pengendalian visual, pergi dan lihat sendiri, dan lain sebagainya.

Pesantren kita perlu merumuskan platform dalam tata kelola agar tetap eksis dan berkelanjutan. Pesantren kita perlu merumuskan dan merapikan sistem. Nilai-nilai, filosofi, budaya kerja, etos juang, dan keperluan pengelolaan pesantren diletakkan dalam sebuah sistem yang baku.

Saat ini, sempatkanlah waktu untuk membangun sistem yang kuat. Dan jangan lupa, perlahan, agendakan untuk belanja kader. Kita perlu stok sumber daya manusia yang cukup. Agar kelak, sistem itu yang akan bekerja untuk kita, yang didukung dengan ketersediaan SDM yg memadai, sebagaimana Toyota dan perusahaan-perusahaan hebat dunia.

Penulis: K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *