Ziarah Ke Makam Imam Maturidi

Ziarah Ke Makam Imam Maturidi

SAMARKAND – Diantara kunjungan ke Samarkand, Uzbekistan, setelah ziarah ke makam Imam Bukhari dan Sahabat Rasul Sayyidina Qusam bin Abbas RA, kami berziarah ke makam Imam Maturidi, Senin, 4 Rabiul Awal 1440 H bertepatan dengan 12 November 2018.

Imam Abu Mansur Al-Maturidi, atau lengkapnya Abu Mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidi As-Samarqandi Al-Hanafi wafat pada tahun 333 H / 944 M, adapun kelahirannya sulit dilacak dalam sejarah.

Imam Maturidi adalah salah seorang ulama Ahlu Sunnah wal Jama'ah dan imam aliran aqidah Maturidiyyah yang dianut sebagian besar pengikut Mazhab Hanafi. Imam Maturidi juga seorang ahli ilmu kalam dan seorang faqih.

Imam Al-Maturidi dilahirkan di Maturid, sebuah pemukiman di kota  Samarkand  (sekarang termasuk wilayah Uzbekistan) yang terletak di seberang sungai. Di bidang ilmu agama, ia berguru pada Abu Nasr al-'Ayadi dan Abu Bakr Ahmad al-Jawzajani. Ia banyak menulis tentang ajaran-ajaran  Mu'tazilah, Qarmatiyyah, dan Syi'ah.

Bagi para santri di pesantren dan para sarjana ilmu-ilmu keislaman, terutama ilmu kalam, filsafat, aqidah dan tasawuf, nama Imam Maturidi sangat familiar, sejajar dengan Imam Abu Hasan Al-Asy'ary (wafat: 935 M), atau lebih dikenal sebagai Imam Asy'ari yang merupakan seorang mutakallim yang berperan penting sebagai filsuf muslim sekaligus pendiri Mazhab Asy'ariyah atau Asya'irah, mazhab kalam ahlussunnah wal jama'ah di samping Mazhab Al-Maturidiyah.

Berbeda dengan mazhab fikih yang memiliki empat imam besar yang dianggap sebagai ahlussunnah wal jama'ah, yaitu Imam Syafi'i, Imam Hambali, Imam Maliki, dan Imam Hanafi, mazhab besar dalam ilmu kalam yang tergolong ahlussunnah wal jama'ah hanya ada dua, yaitu Asy'ariyah (oleh Imam Abu Al-Hasan Al-Asy'ari) dan Al-Maturidiyah (oleh Imam Abu Mansur Al-Maturidi), dimana ajaran keduanya sejalan dan hampir sama alias sangat sedikit perbedaannya. Sehingga seringkali dianggap memuat ajaran yang sama. Perbedaan itu hanyalah dari sisi istilah ataupun hal-hal kecil saja.

Namun, ada pula yang menyangka kalau mazhab Asy'ariyah adalah satu-satunya mazhab kalam ahlussunnah wal jama'ah. Hal itu dikarenakan Asy'ariyah adalah mazhab kalam terbesar sejak satu milenia terakhir dan paling banyak dianut oleh umat muslim, baik di Indonesia maupun dunia, bahkan dianut oleh ulama-ulama besar seperti Imam Nawawi (ulama fikih dan hadis, penulis kitab Riyadhus Shalihin), Ibnu Katsir (ulama tafsir, penulis Tafsir Ibnu Katsir), Imam Ghazali (ulama tasawuf, penulis kitab Ihya Ulumuddin), dan Imam As-Suyuthi (penulis kitab Asbabun Nuzul), serta beberapa ulama hadis lainnya, sehingga beliau dianggap sebagai imam para ahli hadis.

Hal ini diperkuat dengan fakta bahwa kebanyakan ahli hadis dan bahkan hampir seluruh ulama menganut mazhab ini. Sudah lebih dari seribu tahun mazhab Asy'ariyah menyandang predikat ahlussunnah wal jama'ah dan inilah mazhab kalam mayoritas ulama serta umat muslim di seluruh penjuru dunia. Universitas Al-Azhar di Kairo memiliki pandangan mainstream Asy'ariyah dalam Aqidah, dan empat madzhab dalam fikih, akan tetapi Al-Azhar pun memberi tempat untuk madzhab Maturidiah dalam aqidah, karena sama-sama ahlus sunnah wal jamaah.

Ajaran Imam Asy'ari yang menjadi ciri khas dari aliran Asy'ariyah yang paling terkenal adalah tentang pembagian sifat Allah dan Nabi menggunakan hukum akal yang dikenal sebagai akidah 50, dimana Allah memiliki 20 sifat wajib, 20 sifat mustahil, dan 1 sifat ja'iz. Sementara Nabi memiliki 4 sifat wajib, 4 sifat mustahil, dan 1 sifat ja'iz. Ajaran ini juga dikenal dengan sifat 20 ketika dinisbatkan kepada Allah.

Meski dahulunya berasal dari golongan Mu'tazilah, Imam Asy'ari meninggalkan paham-paham Mu'tazilah (seperti mendahulukan akal daripada dalil dalam Al-Qur'an dan Hadis; menganggap Al-Qur'an sebagai makhluk; memfasikkan pelaku dosa besar; dan memungkiri kemungkinan melihat Allah karena beranggapan bila melihat Allah adalah mungkin, maka Allah bertempat) lalu kembali ke arah ahlussunnah wal jama'ah dan menghancurkan Teologi Mu'tazilah.

Alhamdulillah, kami dapat menapak tilasi satu per satu jejak peradaban dan khazanah intelektualisme Islam yang diwariskan oleh Rasulullah SAW, para sahabatnya, para imam, para auliya dan para ulama sesudahnya. Mudah-mudahan Allah SWT menurunkan kembali ulama-ulama besar seperti mereka pada umat Islam di zaman ini.

@anangrikza & @anizar

Tashkent, 5 Rabiul Awal 1440 H

13 Novemver 2018

www.tazakka.or.id