Desakralisasi Kehidupan (1)

Desakralisasi Kehidupan (1)

Tazakka,– Dalam suatu kunjungan saya ke almter tercinta, Pondok Modern Gontor Ponorogo, saya selalu menyempatkan sowan kepada para Pimpinan Pondok, pengasuh, dan guru-guru senior yang telah sangat berjasa dalam menorehkan bekal ilmu pengetahuan dan akhlak. Tradisi ini lazim dan merupakan keharusan atas setiap santri kepada kiainya. 

 

Para Pimpinan Pondok selalu memberikan pesan dan nasehat setiap kali ditemui, dan selalu semuanya terekam dengan baik. Tidak jarang kemudian terjadi dialog dan diskusi hangat namun tetap dalam suasana yang rileks, santun dan sarat makna. KH. Hasan Abdullah Sahal, salah seorang Pimpinan Pondok, suatu ketika memberikan pandangannya tentang fenomena kehidupan saat ini. Menurut Beliau sekarang ini telah terjadi desakralisasi kehidupan. 

Padahal, dalam Islam semua aspek kehidupan bernilai sakral (suci). Masuk kamar mandi, bagi seorang muslim adalah sakral karena ada doa-doa yang dianjurkan untuk  dibaca, supaya tidak diganggu setan sehingga tidak melakukan hal-hal yang terlarang selama berada di dalam kamar mandi.

Bahkan bercermin pun termasuk perbuatan sacral karena ada doa yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW, agar niat bercerminnya tidak memunculkan sifat sombong dan tabdzir (memubadzirkan sesuatu) melainkan untuk mensyukuri ni’mat Allah. Termasukhubungan intim suami-istri agar hubungannya bernilai ibadah dan diberkahi, juga agar jika kelak terjadi pembuahan keduanya sadar sepenuhnya hal itu merupakan rahmat Allah SWT. Sakralnya kehidupan juga berlaku dalam hal mencari nafkah, pergaulan sosial, dan lain sebagainya; semuanya sakral karena diatur dengan jelas dan telah ada petunjuknya langsung dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Pernikahan, sebagai contoh, sekarang mulai bergeser dari sesuatu yang sangat sakral lambat-laun menjadi kurang sakral. Akad nikah yang disunahkan Rasul SAW dilakukan di masjid, banyak yang tidak sakral lagi.

Pertama, proses akad nikahnya telah didahului dengan hubungan haram sebelumnya. Kedua, ketika akad nikah berlangsung, banyak pengunjung –terutama kaum wanita yang berpakain tidak sopan, karena masuk masjid dengan pakaian pesta yang serba terbuka dan mempertontonkan auratnya. Mesti-nya, seorang muslimah masuk masjid dengan pakaian yang pantas dan tertutup sebagaimana dianjurkan dalam syariat Islam. Pre-wedding photo, yaitu sesi perfotoan pra nikah yang akhir-akhir ini digandrungi para pemuda adalah tindakan yang jelas-jelas salah dalam  perspektif ajaran Islam, apalagi foto-foto mesra dan tak senonoh kedua calon mempelai dilampirkan dalam undangan resepsi pernikahan. Lebih mengherankan lagi apabila dilakukan dan direstui oleh tokoh panutan masyarakat dan agama. Sungguh ini tindakan bodoh dan memalukan! Para guru dan ustadz yang akan mengajar siswanya di kelas sesungguhnya merupakan kegiatan yang sakral.

Rasulullah SAW menegaskan bahwa dirinya adalah seorang guru; “sesungguhnya aku diutus menjadi seorang guru”, “sesungguhnya aku tidak diutus melainkan untuk memperbaiki akhlak manusia” dan hadis-hadis lainnya. Maka, guru atau ustadz harus meluruskan niatnya sebelum mengajar yaitu semata-mata untuk ibadah.

Maka, sebelum mengajar ia mesti menyucikan jiwanya terlebih dahulu kemudian berdoa kepada Allah agar dirinya diberi kemudahan dalam mengajar dan siswa diberi hidayah dapat menerima pelajaran yang disampaikannya. Hakekatnya hidayah mutlak dari Allah SWT saja dan Allah-lah yang memasukkan pemahaman kepada siswa, bukan guru.

Metode, materi, dan alat peraga hanyalah penunjang yang bisa benar juga bisa keliru. Tetapi hidayah mtidak akan pernah keliru. Seringkali terjadi gurunya baik siswanya tidak bisa menjadi baik. Tidak sedikit pula gurunya yang tidak baik, tetapi siswanya menjadi baik. Banyak pula yang guru dan siswanya sama-sama baik. Itulah hidayah. Maka, dalam proses belajar mengajar, guru dan siswa harus sama-sama memohon hidayah dari Allah;sama-sama berdoa dan ikhlas, ikhlas mengajar dan ikhlas diajar, ikhlas mendidik dan ikhlas dididik. Setiap guru agar tidak lupa mendoakan siswa-siswanya kapan dan dimana pun, demikian pula para siswa agar senantiasa mendoakan guru-gurunya kapan dan dimana pun. Jangan sampai terjadi seorang guru pikirannya hanyaterfokus pada gaji, karier dan sertifikasi. Pikirkan bagaimana caranya ilmu yang disampaikannya bisa bermanfaat dan menjadi bekal bagi siswa-siswanya untuk kehidupan masa depan di masyarakat. Demikian pula siswa, jangan hanya berpikir belajar untuk ujian, yang penting lulus, dapat ijazah, lalu dapat kerjaan, dan lain sebagainya. Melainkan pikirkan bagaimana ilmu yang telah diperolehnya bisa bermanfaat untuk orang banyak, berdaya guna dan bisa dikembangkan lagi untuk kehidupan yang lebih baik. Inilah bentuk sakralisasi dalam pendidikan. “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Qs. Al-An’am [6]:162)

HOME   |   WAKAF TUNAI PM TAZAKKA  |   BERITA PM TAZAKKA   |   DOWNLOAD KORAN MINI TAZAKKA   |   DOWNLOAD MP3 KH ANANG RIKZA MASYHADI   |   GALLERY KEGIATAN PM TAZAKKA