👁️ 28 kali dibaca

Oleh: Prof. Dr. Nur Hadi Ihsan, M.I.R.K.H.

“Mencari tasawuf di Gontor itu seperti mencari air di lautan.”

Ungkapan itu sekilas terdengar paradoksal, bahkan provokatif. Mengapa harus mencari sesuatu yang justru melimpah? Namun di situlah letak kedalamannya. Di Gontor, tasawuf bukan sesuatu yang dicari melalui label, tarekat formal, atau nomenklatur akademik. Ia tidak berdiri sebagai disiplin yang diumumkan dengan papan nama. Ia hadir sebagai atmosfer, sebagai kebiasaan hidup, sebagai etos batin yang meresap ke seluruh sendi pendidikan dan pembentukan manusia.

Tasawuf di Gontor tidak diposisikan sebagai jalan eksklusif menuju Tuhan yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Ia justru dibumikan. Disiplin waktu, kesederhanaan hidup, ketaatan pada aturan, keikhlasan berkhidmah, dan kesungguhan dalam menuntut ilmu—semuanya adalah laku sufistik, meski tidak selalu disebut demikian. Di sini, tasawuf tidak tampil sebagai wacana, melainkan sebagai praksis. Ia tidak diajarkan terutama melalui definisi, tetapi melalui pembiasaan. Bukan lewat ceramah tentang fana’ dan baqa’, melainkan lewat latihan menundukkan ego, menahan diri, dan mendahulukan kewajiban.

Ruh Tanpa Label
Karena itu, siapa yang datang ke Gontor dengan kacamata formalistik tasawuf—mencari wirid tertentu, baiat tarekat, atau simbol-simbol asketisme—mungkin akan pulang dengan kesan hampa. Ia seperti seseorang yang berdiri di tepi samudra sambil bertanya, “Di mana airnya?” Padahal setiap tarikan napasnya telah basah oleh uapnya. Tasawuf di Gontor adalah tasawuf yang menyamar sebagai etika, bersembunyi dalam disiplin, dan bekerja diam-diam membentuk karakter.

Secara filosofis, pendekatan ini mengandung pesan penting: ruh lebih esensial daripada bentuk. Spiritualitas yang sejati tidak selalu membutuhkan deklarasi. Bahkan, sering kali justru kehilangan daya ketika terlalu disimbolkan. Gontor seakan ingin mengatakan bahwa tasawuf bukanlah identitas tambahan, melainkan inti dari pendidikan itu sendiri. Ia bukan cabang yang ditempelkan, tetapi akar yang menghidupi seluruh pohon.

Laku Sehari-hari
Dalam kerangka ini, tasawuf dipahami sebagai proses pemurnian niat dan penataan batin dalam dinamika sosial yang nyata. Santri tidak diajak menjauh dari dunia, tetapi dilatih mengelola dunia tanpa diperbudak olehnya. Zuhud tidak dimaknai sebagai meninggalkan aktivitas, melainkan membebaskan hati dari ketergantungan. Ikhlas bukan slogan, tetapi tuntutan eksistensial yang diuji setiap hari: saat lelah mengajar, saat amanah menumpuk, saat nama diri harus dikalahkan demi kepentingan bersama.

Tasawuf semacam ini tidak melahirkan pribadi yang larut dalam ekstase, tetapi insan yang stabil, tangguh, dan siap memikul amanah sejarah. Ia bekerja dalam kesenyapan, tetapi berbuah dalam keteguhan moral. Ia tidak membangun menara gading spiritual, melainkan fondasi batin yang kokoh bagi kehidupan kolektif.

Samudra Kesadaran
Di situlah tasawuf Gontor menjadi sufisme yang hidup —living sufism—tanpa harus menyebut dirinya sufistik. Ia hadir dalam diam, bekerja dalam kesunyian, dan berbuah dalam kepribadian. Seperti air laut yang asin, ia tidak selalu terasa segar bagi yang mencicipi sekilas, tetapi justru menopang seluruh siklus kehidupan. Ia menguap menjadi awan, turun sebagai hujan, dan kembali menghidupi daratan.

Akhirnya, mencari tasawuf di Gontor memang seperti mencari air di lautan: sia-sia jika yang dicari adalah wujud yang terpisah. Tetapi sangat bermakna jika yang disadari adalah kenyataan bahwa kita telah berada di dalamnya. Tasawuf di Gontor bukan sesuatu yang dipelajari untuk diketahui, melainkan dihirup untuk dihidupi. Dan barangkali, di situlah pelajaran sufistik yang paling dalam: bahwa Tuhan sering kali paling dekat justru ketika kita berhenti mencarinya dalam bentuk-bentuk yang kita bayangkan sendiri.

Penutup
Pada akhirnya, tasawuf tidak selalu hadir sebagai jalan yang diberi nama, tetapi sebagai getaran halus yang menuntun langkah tanpa suara. Ia hidup dalam kesabaran yang tidak dipamerkan, dalam keikhlasan yang tidak menuntut balasan, dan dalam kesetiaan pada amanah yang dijalani apa adanya. Barangkali itulah sebabnya mengapa di tempat seperti Gontor, tasawuf tidak tampak mencolok—karena ia telah menyatu dengan napas keseharian.

Maka siapa pun yang berada di dalamnya tidak perlu merasa sedang mencari sesuatu yang hilang. Cukup menundukkan hati, memperhalus niat, dan berjalan dengan penuh kesadaran. Sebab bisa jadi, tanpa banyak disadari, kita tidak sedang berdiri di tepi samudra, melainkan telah lama berada di tengahnya—dikelilingi air, digerakkan ombak, dan perlahan diajar makna oleh kedalaman itu sendiri.

Mantingan, 15 Desember 2025

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *