Tazakka – Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. H. Din Wahid, M.A., berkunjung ke Pondok Modern Tazakka, Selasa (5/8). Kunjungan beliau dan rombongan dalam rangka menjajaki peluang kerjasama kelembagaan antara UIN Jakarta dengan pesantren-pesantren di Indonesia, baik Salafiyah, Ashriyah maupun Muhammadiyah.


Beliau tiba di Tazakka menjelang waktu dzuhur dan disambut langsung oleh Pimpinan Pondok Modern Tazakka, K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D., didampingi oleh K.H. M. Bisri, S.H.I., M.Si. serta Para Kepala Departemen. Seusai makan siang dan ramah tamah di Taman Cordoba, dilangsungkan rapat intensif dan diskusi tentang program dan skema kerjasama antara kedua pihak di Kantor Pimpinan.

Dalam forum tersebut turut hadir sejumlah tokoh pesantren seperti K.H. Dr. M. Tata Taufik, M.Ag. (Presiden P2I dan Pimpinan PP Al-Ikhlas Kuningan), K.H. Sapto Suhendro, S.Ag., M.Pd. (Pengasuh PP Muhammadiyah Al-Manaar Pemalang), K.H. Suprapto, S.Th.I., M.P.I. (Pengasuh PP. MTA Karanganyar), serta Kepala-kepala Departemen Tazakka dan utusan dari PP Darul Amanah Kendal.
Membuka diskusi siang itu, Kiai Tata Taufik selaku Presiden Perhimpunan Pengasuh Pesantren Indonesia (P2I) menyampaikan bahwa pesantren-pesantren di Indonesia berusaha untuk memberikan perhatian kepada para alumninya dengan membuka pintu studi di beberapa perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta.


“Pesantren saat ini telah menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional kita. Maka, perguruan tinggi negeri khususnya, sebisa mungkin memberikan beasiswa ataupun kuota khusus bagi alumni pesantren. Dan kami akan memulai kerjasama itu dengan UIN Jakarta” paparnya.
Menjawab apa yang dikemukakan Kiai Tata, Dr. Din Wahid menyampaikan bahwa UIN Jakarta sangat terbuka dengan inisiatif para kiai dalam membangun sinergi antara pesantren dan perguruan tinggi. Ia pun bercerita bahwa saat ini banyak alumni pesantren yang mendapatkan beasiswa di UIN melalui kolaborasi dengan CSR perusahaan milik negara dan perbankan nasional.
Dr. Din bahkan menegaskan bahwa karakter alumni pesantren yang kuat, santun, dan tekun dalam belajar menjadi daya tarik tersendiri bagi institusi seperti UIN. “Akhlak dan daya juang mereka dalam studi di perguruan tinggi anak-anak dari pesantren memang beda. Maka, ide ini adalah gagasan bagus untuk kemajuan masyarakat dan umat” ujarnya.



Ia juga menyebut bahwa ketika Fakultas Kedokteran UIN Jakarta dibuka, dekan bahkan meminta agar 25% kuota mahasiswa berasal dari alumni pesantren. “Karena mereka tidak hanya memiliki kualitas akademik, tetapi juga kepribadian yang unggul. Dan andai belum bisa bersaing, Fakultas bahkan saat itu siap mengadakan materikulasi dan menjalin kerjasama dengan Kemenag RI untuk membantu pembiayaannya” jelasnya.
Sementara itu, Kiai Anang yang merupakan Wakil Presiden P2I dan Sekjen FPAG menjelaskan bahwa banyak skema yang bisa dilakukan dalam kerjasama antara UIN Jakarta dengan pesantren-pesantren. Tetapi bahwa tujuan utamanya adalah dalam rangka percepatan SDM pesantren.
“Sebagai gambaran bahwa pola kerjasama yang bisa dikembangkan adalah seperti pemberian beasiswa kader dan alumni pesantren, penelitian dosen yang berbasis isu pesantren, pelaksanaan KKN dan PPL dari berbagai fakultas UIN Jakarta di lingkungan pesantren, hingga kolaborasi jurnal akademik yang dapat memperkuat peran intelektual pesantren di ruang publik” terang Kiai Anang.
Sore harinya, Dr. Din Wahid berkesempatan memberikan tausiyah umum di hadapan para santri Tazakka selepas shalat Maghrib. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga semangat belajar, adab, dan karakter sebagai modal utama keberhasilan di dunia akademik dan kehidupan sosial.
Di akhir diskusi, Dr. Din Wahid yang pernah menjadi Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Den Haag Belanda, menyampaikan kesiapannya untuk membantu menjembatani kerja sama antara pesantren dan lembaga pendidikan tinggi di Eropa, khususnya di Belanda. Harapannya supaya alumni pesantren bisa melanjutkan studi di berbagai perguruan tinggi ternama di dunia.
Acara kunjungan kemudian ditutup dengan makan malam dan diskusi santai bersama para pimpinan pondok. Beliau juga menyempatkan diri berkeliling melihat langsung suasana dan fasilitas Tazakka.
Kunjungan ini menjadi langkah awal yang menjanjikan dalam memperkuat jaringan keilmuan dan pengembangan SDM pesantren menuju jenjang akademik yang lebih tinggi dan berpengaruh.





