Sejak dulu, pesantren di Indonesia dikenal sebagai benteng pendidikan karakter bangsa. Namun, merespons tuntutan zaman yang dinamis, transformasi kini menjadi keniscayaan; fokus pesantren mulai bergeser dari sekadar mencetak ulama/ahli agama, tetapi melahirkan individu utuh yang mampu menjawab tantangan masyarakat modern. Salah satunya adalah Pondok Modern Tazakka, yang mengintegrasikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik ke dalam satu tarikan napas pendidikan. Lewat motto “berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas,” Tazakka membuktikan bahwa tradisi pesantren itu sebenarnya sangat relevan dengan kompetensi dunia saat ini.
Keberhasilan Tazakka bermula dari kurikulumnya yang mandiri dan tidak “pilih-pilih” ilmu. Di sini, ilmu agama tidak didikotonimisasi dari sains dan teknologi. Falsafah “Agama 100%, Umum 100%” menjadi penegasan bahwa seluruh pengetahuan memiliki akar yang sama, yaitu Allah SWT. Falsafah ini bukan sekadar slogan, namun diterjemahkan dalam praktik pembelajaran. Santri tidak didorong menjadi sekadar penghafal teks, melainkan dilatih untuk berpikir kritis dan membaca realitas. Nilai-nilai Islam kemudian dibawa untuk merespons persoalan nyata, mulai dari isu lingkungan hingga derasnya arus disrupsi teknologi.
Keseimbangan ini makin lengkap dengan penggabungan aspek fisik dan batin yang berjalan beriringan. Santri dibiasakan hidup teratur, menjaga kesehatan dan berolahraga supaya memiliki energi untuk belajar. Pada saat yang sama, kehidupan spiritualnya dibangun secara mendalam. Ibadah berjamaah atau tadarus bukan sekadar menjadi rutinitas, melainkan menjadi ruang kekhusyukan (ketenangan) dan kesadaran diri. Menariknya, spiritualitas di Tazakka tidak berhenti pada pengalaman personal. Ia tumbuh secara kolektif melalui budaya saling mengingatkan dan sikap terbuka terhadap perbedaan pandangan fikih.
Pendidikan karakter juga ditanamkan melalui kegiatan sehari-hari. Mulai dari disiplin waktu hingga tata krama, nilai-nilai tersebut hidup dalam rutinitas di asrama, kelas, maupun lingkungan pondok. Lewat kegiatan kepanduan, pelatihan kepemimpinan, dan pengabdian kepada pondok (khidmah), santri belajar tentang empati, kerja sama, dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, Tazakka tidak hanya membentuk santri yang cerdas, tetapi juga manusia yang peka terhadap sekitarnya.
Jika ditarik ke belakang, gagasan pendidikan holistik ini sejalan dengan pemikiran Imam al-Ghazali, yang menekankan keseimbangan antara ilmu, akhlak, dan amal. Dalam konteks Indonesia hari ini, pendidikan holistik ala Tazakka menjawab kegelisahan pendidikan nasional yang kerap terjebak pada capaian akademik semata. Pesantren ini membuktikan bahwa lembaga pendidikan Islam mampu melahirkan intelektual Muslim yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga saleh secara sosial.
Singkatnya, pendidikan holistik ala Tazakka dapat menjadi oase di tengah tantangan dunia pendidikan modern. Dengan tetap berpegang pada tradisi namun terbuka pada kemajuan, model ini membuka jalan bagi lahirnya generasi yang cerdas secara akademik dan kokoh secara spiritual. Kiranya, refleksi dari Tazakka ini mengingatkan kita bahwa tujuan pendidikan bukan sekadar mengejar angka, melainkan membentuk manusia seutuhnya.
Penulis: Al-Ustadz H. Hakim As Shidqi, M.Pd.I.




