GLOBAL CITIZENSHIP BAGIAN DARI KURIKULUM PENDIDIKAN PESANTREN

👁️ 34 kali dibaca

Di era globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini, dikenal sebuah istilah atau konsep Global citizenship (kewarganegaraan global), yaitu sebuah konsep yang mengacu pada seseorang yang memandang dirinya sebagai bagian dari “masyarakat global” di atas identitas nasional atau lokal, serta memiliki kesadaran, tanggung jawab, dan kemauan untuk berpartisipasi dalam isu-isu global seperti hak asasi manusia, lingkungan, kedamaian, dan pembangunan berkelanjutan.

Dari konsep tersebut, muncullah istilah Global Citizen yaitu individu yang memiliki kesadaran sosial dan tanggung jawab  terhadap isu-isu global dan masyarakat dunia. Dan salah satu individu yang punya peran penting dalam membentuk global citizen adalah santri.

Santri sebagai the agent of change atau agen perubahan dalam masyarakat, memiliki peran penting dalam memahami dan mengamalkan nilai-nilai, ajaran, dan wawasannya sebagai global citizen. Sehingga kelak mampu menjadi warga dunia yang efektif dan berkontribusi positif dalam masyarakat global.

Maka, Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam memberikan pengajaran dan pendidikan tentang global citizenship, baik secara tertulis maupun tidak tertulis. Pesantren sangat sadar bahwa para santri kelak akan berdakwah dan berkontribusi dalam menciptakan dunia yang lebih baik dan berkelanjutan.

Sebagai contoh bahwa santri di pesantren adalah orang yang bermigrasi dari rumah masing-masing, kemudian tinggal dalam totalitas kehidupan 24 jam di pesantren yang plural dan heterogen. Mereka pun berakulturasi, beradaptasi, dan bersosialisasi dengan santri yang berbeda daerah, suku, kebiasaan, dan budaya, bahkan bahasa.

Namun, mereka disatukan dengan kultur dan kegiatan pesantren yang berdisiplin. Mereka juga diwajibkan untuk berbahasa asing yaitu bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa percakapan, bahkan bahasa pembelajaran di kelas. Kemampuan bahasa inilah yang menjadi salah satu kunci utama pendidikan global citizen, dimana kemampuan bahasa bukan hanya dalam membaca, tapi juga dalam kemampuan mendengar, menulis, dan berkomunikasi.

Kemampuan beradaptasi dalam lingkungan pesantren yang tidak sama dengan lingkungan di rumah maupun di masyarakatnya juga penting. Dengan demikian, adaptasi itu mengajarkan para santri untuk bisa hidup di manapun ia nanti. Bahkan adaptasi itu sampai kepada kebiasaan, berpakaian, dan bahkan soal makanan.

Maka, di pesantren para santri terbiasa mengenakan beragam pakaian sesuai dengan kegiatan dan rutinitas. Mereka kadang bersarung, kadang pakai jubah, kadang pakai kaos dan trining, dan tetap elegan mengenakan kemeja atau bahkan full dress dengan jas. Soal makanan, mereka juga diberikan satu menu sarapan dengan roti, menu minuman tambahan yang beragam, dan bahkan diberi menu penutup buah-buahan. Tak lain supaya kelak mereka bisa beradaptasi dalam berpakaian dan makan minum di beragam negara.

Sisi lain dari silabus global citizen di pesantren adalah konten pelajaran dan pendidikan leadership. Banyak sekali konten-konten pelajaran yang mengenalkan santri kepada pentingnya global citizen. Sebut saja beberapa mahfudzot atau bait hikmah yang mengajarkan santri untuk mengembara mencari ilmu. Ada pula dalam teks bacaan yang mengenalkan gambaran negara luar. Itu semua secara tidak langsung akan membentuk impian dan cita-citanya untuk belajar di berbagai negara di berbagai benua.

Dalam kurikulumnya, pesantren juga tidak membuat dikotomi keilmuan. Tapi pelajaran agama diajarkan secara menyeluruh dan mengajarkan pelajaran umum secara menyeluruh. Bahkan, mereka tetap belajar tentang sains dan didorong terus untuk meningkatkan keilmuan terkait dengan perkembangan teknologi. Dengan demikian, cita-cita melahirkan ulama yang intelek bisa tercapai.

Tak beda, pendidikan leadership menjadi hidden curriculum yang memberikan dampak signifikan wawasan santri. Mereka diberikan ruang-ruang untuk mengasah kemampuan kepemimpinannya melalui organisasi di kelas maupun di luar kelas, kepanitiaan, organisasi santri, dan juga kegiatan pengembangan minat bakat. Mereka belajar berkomunikasi, berkoordinasi, berkolaborasi, bersinergi, dan mengembangkan kreativitas.

Selain wawasan keilmuan, pesantren secara tegas juga mengajarkan pentingnya adab, akhlak, dan karakter yang baik. Bahkan, pesantren menempatkan adab di atas ilmu. Maka, selain mengajarkan tanggung jawab sosial, pesantren juga mengajarkan para santri tentang empati, toleransi, keadilan, kejujuran, keikhlasan, dan juga nilai ukhuwwah. Ini semua tak lepas dari ajaran Rasulullah dalam konteks hijrah yang mampu menyatukan para Muhajirin dan kaum Anshar Madinah, termasuk membangun hubungan baik dengan umat non muslim di Madinah saat itu.

Maka, beruntunglah kita yang berkesempatan belajar di pesantren, menjadi santri yang memiliki wawasan global. Bermimpilah wahai para santri untuk mengembara dalam keilmuan di beragam benua. Ingat bahwa Kiai Ahmad Sahal,Trimurti Pendiri PM Darussalam Gontor pernah berpesan: “Kalimantan, Sumatera, Sulawesi latar omahku. Eropa, Afrika, Amerika dolananku”.
Penulis: Al-Ustadz Alam Mahardika, M.H.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *