TRADISI PASOWANAN DI PONDOK MODERN TAZAKKA

👁️ 28 kali dibaca

Pasowanan telah menjadi tradisi yang melekat dalam kehidupan Pondok Modern Tazakka sejak awal pendiriannya. Dalam proses perencanaan dan pembangunan pondok, para Pimpinan Tazakka sering melakukan pasowanan dengan Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk permohonan doa restu serta untuk melaporkan perkembangan pembangunan pondok.

Hingga kini, budaya pasowanan tetap dipertahankan dan berkembang dalam berbagai bentuk, seperti pasowanan guru dengan Pimpinan, Kepala Departemen dengan Pimpinan, santri dengan Syaikh Mantiqah dan wali kelas, serta OPPM dengan Pengasuhan Santri dan musyrif. Tradisi ini menjadi sarana komunikasi yang intens dan efektif, sehingga tercipta hubungan yang erat antara setiap elemen dalam pondok.

Salah satu bentuk pasowanan yang rutin dilaksanakan adalah Pasowanan Rutin, yang diperuntukkan bagi Kepala Departemen dan Kepala Bagian. Kegiatan ini berfungsi sebagai forum pelaporan, evaluasi, dan pengarahan dari Pimpinan pondok terhadap program kerja yang sedang atau akan dilaksanakan. Melalui pasowanan ini, setiap program dapat berjalan sesuai visi dan misi pondok serta mendapatkan solusi atas berbagai permasalahan yang muncul.

Selain itu, ada pula Pasowanan Temporer, yang dilakukan secara khusus bagi kader pondok yang baru menyelesaikan studinya. Pada momen ini, mereka melaporkan hasil pembelajaran selama masa studi sekaligus menerima arahan dari Pimpinan terkait tugas dan tanggung jawab mereka di pondok.

Untuk menjaga kualitas dan semangat para tenaga pendidik, pondok juga mengadakan Kamisan Rutin, yaitu forum pekanan yang dihadiri oleh seluruh guru. Forum ini menjadi ajang evaluasi kinerja, pembahasan dinamika pendidikan, serta penanaman nilai-nilai kepesantrenan dan spiritualitas yang disampaikan langsung oleh Pimpinan pondok.

Selain itu, setiap Malam Jumat diadakan Yasinan bersama bagi para asatidz sebagai bentuk penguatan spiritual, yang kemudian diakhiri dengan jamuan makan malam bersama guna mempererat ukhuwah di antara para guru.

Di samping kegiatan yang bersifat keilmuan dan spiritual, Pondok Modern Tazakka juga memiliki tradisi Kliwonan, yaitu pertemuan khusus bagi guru yang telah berkeluarga. Dalam kegiatan ini, para guru berkumpul bersama pasangan dan anak-anak mereka untuk menerima nasihat dari Pimpinan pondok terkait nilai-nilai keluarga Islami serta penguatan spiritualitas. Kegiatan ini diadakan setiap Jumat Kliwon sore dan bertujuan untuk membangun keharmonisan dalam keluarga para guru.

Selain itu, di awal tahun pelajaran, pondok menyelenggarakan Penataran Awal Tahun Pelajaran selama sepekan bagi seluruh guru. Program ini bertujuan untuk menyamakan persepsi, memperkuat komitmen, serta memberikan pembekalan nilai-nilai kepondokan agar para guru semakin siap menjalankan tugas mereka sebagai pendidik.

Sebagai bentuk apresiasi dan penyegaran bagi seluruh keluarga pondok, setiap dua tahun sekali diadakan Family Gathering yang berlangsung selama dua hari satu malam di luar kota. Kegiatan ini dirancang untuk mempererat hubungan kekeluargaan serta memberikan suasana baru yang lebih segar di luar lingkungan kerja sehari-hari. Selain itu, untuk menjaga kebugaran fisik, setiap Jumat pagi seluruh guru mengikuti kegiatan olahraga bersama yang diawali dengan doa dan pembersihan makam pondok sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu. Kegiatan ini dilanjutkan dengan jogging serta berbagai aktivitas olahraga lainnya, lalu diakhiri dengan pengarahan dari Pimpinan atau Departemen SDM serta sarapan bersama.

Tradisi pasowanan di Pondok Modern Tazakka bukan hanya sekadar rutinitas, tetapi juga menjadi sarana komunikasi yang efektif, media kaderisasi, serta bentuk pembinaan karakter bagi seluruh warga pondok. Dengan berbagai bentuk pasowanan yang telah diterapkan, pondok memastikan bahwa hubungan antara santri, guru, dan Pimpinan tetap harmonis dan selaras dengan visi besar Pondok Modern Tazakka. Tradisi ini menjadi warisan kepesantrenan yang terus dipertahankan demi mencetak kader-kader berkualitas yang siap mengabdi di masyarakat.

Penulis: Ibrahim Hanif Lafy Na’im

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *