Prof. Dr. Muhammad Bashar Arafat Ajak Santri Tazakka Jadi Pemimpin Dunia

👁️ 15 kali dibaca

Batang, Ahad (28/9/2025) — Pondok Modern Tazakka kembali menghadirkan tokoh inspiratif dalam rangkaian Leader’s Talk. Kali ini, pendiri sekaligus Presiden Civilizations Exchange and Cooperation Foundation (CECF), Prof. Dr. Muhammad Bashar Arafat, hadir bersama rekannya Mr. John Kaizer untuk memberikan motivasi, wawasan global, serta pandangan keislaman kepada para santri dan civitas pondok.

Kedatangan rombongan disambut hangat oleh Pimpinan dan para Kepala Departemen di ruang tengah pimpinan pondok, yang kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah. Usai pertemuan tersebut, acara berlanjut ke Aula Robithoh untuk seminar bertema “Strengthening Islamic Education and Global Collaboration for a Peaceful Civilization” yang dibuka langsung oleh Pimpinan dan Pengasuh Pondok Modern Tazakka, K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D.

Dalam pidatonya, Prof. Arafat mengungkapkan kekagumannya terhadap perkembangan positif pesantren di Indonesia. Menurutnya, santri memiliki potensi besar untuk tampil sebagai pemimpin masa depan yang berpengaruh, baik di tingkat nasional maupun global.

“Kalian bukan hanya penerus bangsa, tapi calon pemimpin dunia. Dunia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga ikhlas dan berakhlak,” tegas Prof. Arafat di hadapan ratusan santri.

Beliau juga menekankan pentingnya hubungan internasional, misi Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, serta urgensi mempersiapkan diri menghadapi tantangan global. Prof. Arafat menyinggung Surah Ar-Rum ayat 1–4 sebagai peta peradaban yang memberi petunjuk tentang cepatnya perubahan kekuatan geopolitik dunia.

Selain itu, beliau mengangkat kisah Siti Hajar dan Ismail a.s. sebagai teladan ikhlas dan pengorbanan, serta perjuangan Abdul Qodir al-Jazairi sebagai inspirasi dalam menyerukan asas kemanusiaan dan perdamaian. “Jika kamu ikhlas, Allah akan membalas keikhlasan itu beribu-ribu kali lipat,” ungkapnya.

Sementara itu, Mr. John Kaizer menekankan pentingnya decency (keluhuran budi) sebagai nilai universal yang melengkapi agama, bukan sekadar ritual. Ia menceritakan pengalamannya berbisnis dengan Uni Soviet, lalu tersentuh oleh tragedi di Aljazair pada 1990 ketika delapan biarawan Trappist dibunuh. Peristiwa itu membuatnya merenungkan hubungan persahabatan dengan para biarawan dan mengagumi ketulusan hidup mereka. Dari sanalah ia terdorong mendalami bahasa Prancis dan kemudian mengenal sosok Emir Abdelkader, yang semakin memperkuat pandangannya tentang spiritualitas, kemanusiaan, dan pentingnya persatuan global lintas agama.

“Akhlak yang luhur adalah milik semua manusia. Baik Muslim, Yahudi, maupun Nasrani, semua harus menjunjung nilai-nilai kemanusiaan. Itulah yang memperkuat peradaban,” ujarnya.

Ia juga memuji semangat Tazakka dalam menggemakan nilai rahmatan lil ‘alamin, serta menyebut hubungannya dengan Prof. Arafat sebagai wujud nyata prinsip ta‘āwanu ‘ala al-birri wa al-taqwā.

Di akhir acara, K.H. Anang Rikza Masyhadi menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas kehadiran Prof. Arafat dan Mr. John. Beliau menekankan perlunya menyiapkan global citizen dengan standar akademik yang mumpuni serta penguasaan bahasa asing, terutama menghadapi era geo-ekonomi baru yang akan bergeser ke Timur. Kiai Anang juga berharap agar tahun depan santri Tazakka dapat mengikuti short course selama sebulan di Amerika, guna memperluas cakrawala berpikir dan menumbuhkan motivasi untuk melanjutkan studi hingga ke Eropa.

Acara Leader’s Talk ini berlangsung khidmat dan penuh antusiasme. Bagi para santri Tazakka, momen tersebut menjadi dorongan kuat untuk membuka cakrawala global, memperkuat tekad, serta menyiapkan diri menjadi pemimpin masa depan yang berkarakter, berilmu, dan berakhlak mulia.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published. Required fields are marked *