Tazakka — Mantan Ketua MUI Pusat yang juga sebagai Penasehat Yayasan Tazakka, Prof. Dr. K.H. M. Din Syamsuddin, M.A. berkunjung ke Pondok Modern Tazakka dan memberikan Kuliah Umum di Aula Rabithah, Senin (21/7). Kehadiran beliau bersama istri disambut dengan hangat oleh Seluruh Pimpinan Pondok, Pengurus Yayasan, serta Kepala-kepala Departemen.

Sebelum memulai kuliah umum, Prof Din Syamsuddin terlebih dahulu beramah tamah di Ruang Pimpinan dan berdiskusi banyak hal tentang perkembangan pesantren di Indonesia. Hadir pula dalam diskusi hangat tersebut unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah Batang dan beberapa Pimpinan pesantren lain. Adapun kuliah umum siang itu mengangkat tema ‘Pesantren Sebagai Pilar Peradaban Indonesia Maju’.
Dalam sambutannya, Bapak Pimpinan dan Pengasuh Pondok Modern Tazakka, K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D. menyampaikan bahwa kehadiran Prof Din bukanlah sebagai tamu. Karena beliau sudah membersamai Tazakka sejak awal berdiri.
“Pak Din ini sudah membersamai kita sejak awal berdiri sebagai Penasehat Yayasan Tazakka. Jadi beliau ini sedang pulang ke rumah dan memberikan nasehat kepada guru-guru sebagai anak-anak beliau” ujar Kiai Anang.
Beliau juga menegaskan kembali bahwa kesuksesan dan kemajuan Tazakka tidak lepas dari orang-orang baik yang berkumpul di Tazakka. Baik dari para guru, istri-istri guru, bahkan Pak Anta dan Pak Teguh sebagai orang tua bersama para anshar.

Sedangkan Prof Din Syamsuddin mengawali kuliahnya dengan kekaguman sekaligus kesyukuran atas kemajuan Tazakka tahun demi tahun. Menurutnya, kemajuan pondok tersebut memperlihatkan bahwa apa yang dilakukan oleh Tazakka sudah sesuai dengan cita-citanya.
“Setiap saya hadir di Tazakka, saya selalu melihat tanda-tanda kemajuan di pesantren ini, baik yang fisik maupun non fisik. Artinya, pondok ini sudah on the track, pondok berjalan pada jalan menuju cita-citanya” jelasnya.
Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan juga Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar Agama dan Peradaban di era Jokowi tersebut juga menjelaskan bahwa salah satu ciri kesuksesan sebuah lembaga adalah memiliki visi besar yang secara konsisten dilakukan oleh lembaga tersebut.
Sebagai contoh adalah Pondok Modern Darussalam Gontor dengan Panca Jangkanya, Tazakka juga dengan visinya, juga termasuk Muhammadiyah dengan mendirikan Kulliyat al-Zu’ama atau Kulliyat al-Muballighin pada masa lampau untuk melahirkan para ulama dan zuama yang akan disebar di seluruh penjuru Nusantara.
Prof Din pun berpesan tentang pentingnya wawasan kepemimpinan bagi para santri. “Tentang kepemimpinan, pikiran-pikiran modern selalu berkembang. Bahkan, Harvard mengembangkan nilai-nilai kepemimpinan dan manajemen dengan istilah ‘Change Leadership’ atau kepemimpinan profetik” pesannya.
Tentu hal ini sangat erat kaitannya dengan kesuksesan lembaga yang membutuhkan kepemimpinan berkelanjutan. Maka, pesantren sebagai lembaga pendidikan juga tidak boleh takut melakukan pembaharuan-pembaharuan dengan tetap memperhatikan proses.

Usai memberikan kuliah umum di hadapan seluruh guru KMI dan juga MI-TPQ Al-Asyraf serta beberapa undangan, Prof Din kemudian didaulat untuk memberikan tausiyah dan motivasi kepada seluruh santri di Masjid Az-Zaky usai shalat Dzuhur berjamaah. Kunjungan beliau kemudian ditutup dengan ramah tamah makan siang di Kantor Pimpinan di Gedung Rabithah bawah.






