Bandar — Penasehat Grand Syaikh Al-Azhar Urusan Mahasiswa Asing, Prof. Dr. Nahla Shabry As-Sha’idy berkunjung ke Pondok Modern Tazakka, Selasa (27/5). Kehadiran beliau disambut dengan hangat oleh Pimpinan dan Pengasuh Pondok Modern Tazakka, K.H. Anang Rikza Masyhadi, M.A., Ph.D. dan juga Bapak Pimpinan K.H. M. Bisri, S.H.I., M.Si. di Ruang Pimpinan Gedung Rabithah.

Hadir pula dalam penyambutan sore itu Ketua Yayasan Tazakka, H. Anta Masyhadi dan Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Tazakka, H. Teguh Suhardi, beberapa Pimpinan Pesantren, Kepala-kepala Departemen dan Ketua-ketua Bagian PM Tazakka. Kehadiran beliau disambut meriah oleh Marching Band Alunan Nada Tazakka, santri Tazakka, juga santri-santri TPQ Al-Asyraf.

Usai ramah tamah dan berdiskusi di Ruang Pimpinan, Prof Nahla kemudian didaulat untuk memberikan kuliah umum di hadapan seluruh santri dan guru KMI di Masjid Az-Zaky.

Dalam sambutannya, Kiai Anang menyampaikan tentang rasa bangga dan bahagianya atas kehadiran Prof Nahla. Karena kehadiran beliau merekatkan bukan hanya Mesir dan Indonesia, tapi antara Al-Azhar dan lembaga pendidikan Islam di Indonesia.

“Kami sungguh bahagia dengan kehadiran anda ke Tazakka secara khusus maupun ke Indonesia secara umum. Inilah hubungan erat antara Mesir dan Indonesia, bahkan hubungan yang erat antara Al-Azhar dengan pesantren-pesantren maupun perguruan tinggi Islam di Indonesia” ungkap Kiai Anang.
Kiai Alumni Al-Azhar dan Canal Suez University ini juga menyampaikan sejarah Tazakka yang dahulunya adalah tanah yang tumbuh dengan tanaman, kini tumbuh dengan manusia-manusia unggul, para calon pemimpin dan perekat umat masa depan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Al-Azhar. Bahkan, sebagian dari alumninya sudah ada yang belajar ke Al-Azhar.
Kiai Anang lalu melanjutkan bahwa telah banyak tokoh-tokoh Al-Azhar yang berkunjung ke Tazakka yang menggambarkan betapa dekatnya hubungan antara Al-Azhar dengan Pondok Modern Tazakka.

“Alhamdulillah telah banyak tokoh-tokoh penting dari Al-Azhar berkunjung ke Tazakka dan menjadi bagian dari sejarah penting Tazakka. Baik Rektor Prof. Dr. Salamah Dawood bersama Wakil Rektor Prof. Dr. Ramadhan Al-Shawi, telah datang memberikan kuliahnya kepada para santri, termasuk Mantan Rektor Prof. Dr. Husein Al-Mahrashawi serta beberapa dosen dari Al-Azhar” pungkasnya.
Prof Nahla yang pernah menjabat sebagai Dekan Fakultas Studi Islam Universitas Al-Azhar dalam pidatonya menyampaikan kegembiraannya dalam kunjungan ke Tazakka, karena sambutan yang luar biasa.

Direktur Markaz Tatwir dalam kuliahnya menyampaikan bahwa kemajuan besar sering kali berawal dari sesuatu yang kecil dan sederhana. Dengan kerja keras, keikhlasan, dan niat tulus untuk mengabdi kepada agama dan ilmu, sesuatu yang awalnya kecil dapat tumbuh menjadi pencapaian yang luar biasa. Beliau menekankan pentingnya mengambil pelajaran dari proses kemajuan ini, khususnya bagi generasi muda agar terus belajar dengan istiqamah.

“Salah satu contohnya adalah Pondok Modern Tazakka, yang dulunya hanya berdiri di atas lahan seluas seribu meter persegi. Kini, pondok tersebut telah berkembang menjadi tiga belas ribu meter persegi, dengan jumlah santri mencapai seribu seratus orang. Ini menjadi bukti keberkahan dari kerja keras yang dilakukan dengan niat ikhlas dan usaha yang konsisten di jalan Allah.”

Beliau juga menyampaikan kekagumannya kepada para santri yang hadir, seraya menekankan bahwa pemuda adalah harapan dan tulang punggung umat. Mereka adalah masa depan bangsa dan menjadi pendorong utama bagi kemajuan.
Dalam hal ini, beliau mengutip sabda Nabi ﷺ tentang tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah di hari kiamat, salah satunya adalah: “Pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah.”

Di akhir kuliahnya, beliau berpesan kepada seluruh santri agar rajin belajar bahasa Arab. Bahasa Arab bukan hanya alat komunikasi orang Arab, tetapi juga merupakan bahasa ilmu, bahasa wahyu, dan bahasa umat Islam. Mempelajari bahasa Arab bukan hanya kewajiban bagi orang Arab, tetapi juga penting bagi non-Arab, karena bahasa ini adalah jembatan utama untuk memahami Al-Qur’an, Hadis, serta warisan keilmuan Islam yang sangat luas.
Sebagai contoh, beliau menyebut Imam Sibawaih dan Imam Al-Farahidi—dua tokoh besar dalam ilmu bahasa Arab—yang bukan berasal dari Arab, namun mampu menjadi pakar dan pelopor karena kesungguhan mereka dalam belajar dan kecintaan mereka terhadap ilmu.

Usai memberikan kuliahnya, Prof Nahla menyempatkan untuk berziarah ke makam pondok dan mendoakan para wakif yang telah berpulang ke rahmatulLah. Kunjungan beliau kemudian ditutup dengan berkeliling seluruh area pondok dan jamuan makan malam. Selanjutnya, Beliau kembali ke Jakarta dan akan bertolak ke Kairo keesokan harinya.




