DZIKIR : Seperti Perumpamaan Hidup dan Mati

Dalam sebuah ayat, Allah SWT berfirman:  Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah kepada Allah, dengan mengingat (nama-Nya) sebanyak-banyaknya, dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.”(Qs. Al-Ahzab [33]: 41-42)

Perintah kepada orang beriman untuk berdzikir sebanyak-banyaknya. Bukan sedikit. Maka, setiap saat orang beriman harus selalu mengingat Allah, baik mengingat dalam pengertian dzikir lisan menyebut nama: Allah; bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, termasuk bershalawat, membaca Al-Quran, dan bentuk ibadah lainnya.

Dalam ayat lain disebutkan: “Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati.” (Qs. Al-Muzzammil [73]: 8)

Lalu, siapakah nama Tuhanmu? Allah! Maka, berdzikir dengan menyebut nama: Allah, adalah dzikir yang terbaik. Sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya dalam keseluruhan keseharian kehidupan kita.

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir, seperti perumpamaan orang hidup dan orang mati.” (HR. Bukhari)

Jadi, oleh Rasul SAW orang yang enggan berdzikir atau dzikirnya sedikit dianggap telah mati. Dengan kata lain, dzikir adalah denyut kehidupan seorang mukmin.

Maka, biasakanlah berdzikir mengingat Allah dimanapun dan kapanpun. Bahkan, jika perlu luangkan waktu khusus dan masukkan dalam agenda wajib harian kita untuk sejenak berdzikir kepada Allah. Janganlah pakai waktu sisa; tenaga sisa; apalagi hati sisa.

Ketahuilah, Allah menegaskan dalam Al-Quran bahwa orang yang dzikirnya sedikit adalah salah satu tanda kemunafikan. “Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bermaksud ria (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.” (Qs. An-Nisa [4]: 142)

Simak kajian selengkapnya di chanel: TAZAKKA TV

About Tazakka

Admin Official Utama Website Pondok Modern Tazakka, mempublikasi tulisan dengan cinta dan keikhlasan dari Batang, Jawa tengah.

Sebelumnya

Antara Shalat dan Pekerjaan

Sesudahnya

Keutamaan Menunggu Waktu Sholat