Intisari Khutbah Jumat KH. Anang Rikza Masyhadi, MA di Makkah Al-Mukarromah

Intisari Khutbah Jumat KH. Anang Rikza Masyhadi, MA di Makkah Al-Mukarromah

Intisari Khutbah Jumat KH. Anang Rikza Masyhadi, MA di Makkah Al-Mukarromah. 

8 Dzulhijjah 1440 H, 9 Agustus 2019

1. “Haji adalah Arafah“, kata Rasulullah SAW. Wukuf di Arafah adalah rukun terpenting ibadah haji.

2. Ada tiga pendekatan sejarah mengapa tempat itu disebut Arafah. Pertama, di sanalah tempat bertemunya kembali Adam dan Hawa setelah sekian lama terpisah setelah keduanya turun ke muka bumi. Keduanya bertemu kembali untuk pertama kali di dunia dan saling mengenal kembali, yg dalam bahasa Arab disebut: “ta’arofayata’arofu“. Arafah dalam perspektif ini adalah mengenal kembali.

3. Kedua, karena di sanalah utk pertama kalinya pelajaran manasik haji disampaikan, yaitu oleh Jibril AS kepada Ibrahim AS. Setelah lengkap semua diajarkan, lalu Jibril bertanya kepada Ibrahim: “arofta?” (sudah mengertikah engkau?). “Aroftu” (aku sudah mengerti) jawab Ibrahim. Dalam perspektif ini Arafah adalah mengerti dan memahami.

4. Ketiga, di sanalah orang mengakui dosa-dosanya dan mengetahui bagaimana cara bertaubat: “arofa bi dzanbihi wa arofa kaifa yatuubu”. Dalam perspektif ini Arofah adalah mengakui.

5. Maka, ada tiga hikmah penting yang dapat kita petik dari Arafah, yaitu: mengenal, mengerti dan mengakui. Apa, siapa dan bagaimana cara mengenal, mengerti dan mengakui? Ini perlu menjadi perenungan khusus. Karena terkadang ada yang mestinya harus kita kenal, tapi kita tidak mengenalnya. Ada yang mestinya kita mengerti benar tapi sayangnya kita tidak pernah mau mengerti. Dan seringkali kita harus mengakui sesuatu, terutama kesalahan-kesalahan kita, akan tetapi kesombongan dan ketamakan seringkali menutup pengakuan itu.

6. Apa yang dilakukan orang saat wukuf di Arafah? Ada tiga hal mendasar tentang apa yang mesti dilakukan di Arafah. Pertama, berdzikir. Kedua, beristighfar memohon ampunan-Nya. Ketiga, berdoa.

7. Pertama adalah berdzikir. Berdzikir yang paling utama saat berada di Arafah adalah tahlil:

لا إله إلا الله وحده لا شريك له… له الملك وله الحمد وهو على كل شيئ قدير

Sebab, Rasulullah SAW bersabda:

أَفْضَلُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَأَفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ

Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah. Dan sebaik-baik yang pernah aku baca dan juga nabi-nabi sebelumku adalah: ‘LAA ILAAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIIKALAH’ (Tidak ada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya) ” (HR. Malik)

Tahlil ini adalah tauhid. Dan menjadi misi setiap kenabian dan kerasulan yang turun ke muka bumi. Maka, melantunkan dzikir tahlil ini saat di Arafah adalah bagian dari menegaskan kembali komitmen kita pada tauhid. Sebab, haji adalah penegasan tauhid. Tercermin pula dari jawaban panggilan kita dari Allah:

لبيك اللهم لبيك لبيك لا شريك لك لبيك

7. Kedua adalah beristighfar. Wukuf di Arafah adalah forum yang disediakan Allah untuk memohon ampunan sebanyak-banyaknya kepada-Nya. Sebagaimana Adam dan Hawa ketika keduanya turun ke muka bumi karena pelanggaran yang dilakukannya di surga, keduanya mengakui kesalahan dan memohon ampun.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَـٰسِرِینَ. [الأعراف 23[

Keduanya berkata, “Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”

Inilah teks doa pertama yang diajarkan Allah kepada manusia pertama. Dan inilah doa pertama yang dipanjatkan manusia di muka bumi. Maka, perbanyaklah mengucapkannya terutama saat wukuf di Arafah.

Saat wukuf, sebagaimana dalam Hadis Rasul ditegaskan bahwa Allah memamerkan hamba-hamba-Nya itu di hadapan para malaikat-Nya. Dan Allah memproklamirkan bahwa Dia Yang Maha Pengampun telah mengampuni dosa-dosa hamba-hamba-Nya itu meskipun dosa mereka bagaikan tebaran bintang di langit dan butiran pasir di pesisir pantai dunia.

8. Ketiga adalah berdoa. Rasulullah SAW menegaskan bahwa sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah. Saat wukuf pada Hari Arafah, pintu-pintu langit terbuka, maka ketuklah dan masuklah sebelum ia ditutup kembali. Inilah momentum paling mahal dalam hidup manusia yang disediakan oleh Allah hanya beberapa saat dalam setahun.

9. Selain itu, wukuf artinya berhenti atau berdiam diri. Berbeda dengan amaliah haji yang lainnya: thowaf, sai, lontar jumrah yang semuanya membutuhkan gerakan-gerakan, wukuf tidaklah membutuhkan gerakan, tapi hanya berdiam diri. Wukuf butuh kehadiran, bukan gerakan.

Hikmah yang bisa kita ambil dari wukuf ini adalah bahwa seyogyanya manusia perlu membuat wukuf-wukuf dalam kehidupannya. Artinya, berhenti dari hiruk pikuk duniawi, dan hadir ke hadapan Rabbnya.

Shalat adalah wukuf harian kita. Saat panggilan adzan berkumandang, maka hentikanlah segala hiruk pikuk duniawiyah kita, dan hadirlah menghadap Allah SWT.

Puasa adalah wukuf tahunan kita. 11 bulan kita dibebaskan untuk melampiaskan nafsu makan, minum dan seksual kapan saja, tetapi ada satu bulan Allah jadikan ia sebagai wukuf: berhenti dari memuaskan nafsu dan hadirlah menghadap Allah. Itulah puasa Ramadhan.

Zakat pun adalah wukuf kita. Termasuk juga wakaf. Ketika Allah membebaskan kita untuk menikmati karunia-Nya di muka bumi ini sebanyak-banyaknya, tetapi jangan lupa ada sebagian diantaranya yang harus kita berhentikan dari keinginan memilikinya. Lalu, kita lepaskan dan kita serahkan kembali kepada Allah, yang wujudnya kita salurkan kepada yang berhak menerimanya.

10. Wukuf di Arafah mengajarkan banyak makna dan hikmah bagi kehidupan manusia. Semoga, kita semua dapat menangkap makna-makna itu, mengambil hikmah pelajaran darinya sehingga dapat diwujudkan dalam sikap dan perilaku keseharian. Semoga dengan itu kita dapat menggapai janji Allah SWT seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW: “Barangsiapa berhaji tidak rafats, tidak fasik, maka ia akan kembali suci seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibu kandungnya.

 

K.H Anang Rikza Masyhadi, MA
Arafah, 9 Dzulhijjah 1440 H,
10 Agustus 2019
Gaido Travel & Tours

www.tazakka.or.id

About Tazakka

Admin Official Utama Website Pondok Modern Tazakka, mempublikasi tulisan dengan cinta dan keikhlasan dari Batang, Jawa tengah.

Sebelumnya

Menuju Arofah, Puncak Ibadah Haji

Sesudahnya

Tradisi Qurban di Pesantren