Balasan Orang Yang Berinfaq; Syaikh Dr. Mahmud Syahatah

Kaum Anshar di Madinah adalah­ orang-orang yang menolong Rasulullah SAW dan kaum Muhajirin di jalan Allah. Dan sekarang, ada isti­lah Anshar Tazakka yang dicipta­kan oleh Saudaraku Anang Rikza Masyhadi ini, semoga Anshar Tazakka­  juga sama yaitu orang-orang yang menolong perjuangan di jalan Allah. Kita sudah menamakan diri menjadi Anshar Tazakka; semoga­ kelak kita juga akan menjadi Anshar Rasulullah di akhirat. ­

Mungkin saja pahala untuk seorang mukmin yang bekerja keras saat ini lebih besar dibanding pahala orang-orang yang bekerja keras zaman sebelumnya, meskipun tidak mencapai ke tingkat anshar seperti pada zaman Rasul, karena tantangan di zaman ini sungguh amat berat. Orang berbuat baik dan mau berjuang di jalan Allah pada zaman ini adalah sesuatu yang luar biasa.

Dalam beberapa ayat Al-Quran, Allah memberikan penghargaan kepada orang-orang yang berjihad dengan harta lebih besar daripada jihad dengan jiwa. Yang menarik, Allah lebih mendahulukan menyebut jihad dengan harta daripada jihad dengan jiwa. “Tetapi Rasul dan orang-orang yang beriman bersama­nya, mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. At-Taubah­ [9]: 88)

Infak yang digunakan dalam konteks jihad fi sabilillah jauh lebih besar­ pahalanya daripada infak yang sifatnya hanya sedekah biasa. Infak yang hanya sedekah itu contohnya adalah seperti infak yang diberikan kepada fakir miskin. Infak seperti ini hanya mendapatkan 10 kali saja balasannya, sedangkan infak yang digunakan untuk proyek-proyek kebaikan, jihad fi sabilillah, seperti membangun masjid dan pesantren akan mendapatkan 700 kali lipat pahala balasan kebaikan.

Kelipatan 700 kali lipat pahala itu baru pertama yang diberikan oleh Allah yang mana nantinya akan dilipat gandakan lagi. Infak yang disalurkan ke lembaga-lembaga atau yayasan, maka pahalanya akan mengalir selama lembaga itu berjalan terus. Contoh, membangun masjid; meskipun kita menyumbangnya sedikit akan tetapi selama masjid itu dipakai untuk shalat dan ibadah yang lainnya, maka kita akan mendapatkan pahalanya yang mengalir terus.

Ketika berinfak untuk memba­ngun pesantren, selama pesantren itu berjalan dan mengeluarkan alumni maka orang yang berinfak kepadanya akan terus mendapatkan alir­an pahala. Ketika seorang alumnus­ pesantren itu kemudian mengamalkan ilmunya kepada masyarakat, dan masyarakat mengamalkannya, maka ia pun mendapatkan pahala dari amalan masyarakat itu. Karena masyarakat itu mendapat ilmu dan pencerahan dari seorang alumnus pesantren yang dulu pernah­ dibantunya. Demikianlah pahala kebaikan akan terus mengalir dan semakin berlipat-lipat.

Maka, dalam sebuah riwayat Hadis­ disebutkan bahwa orang-orang yang berinfak di jalan Allah­ adalah termasuk orang yang per­tama­ akan memasuki surga-Nya. Orang yang pertama kali akan masuk surga adalah orang yang berinfak dalam pendidikan keagamaan.

Alkisah, ada tiga orang berada di depan pintu surga untuk berlomba memasukinya paling dulu, yaitu; orang alim, orang kaya yang berinfak, dan orang yang mati syahid dalam peperangan. Kemudian Allah mengirimkan malaikat untuk memutuskan siapa yang berhak lebih dahulu masuk surga.

Lalu, malaikat mulai menanyainya satu per satu, petama kepada orang kaya yang berinfak:  “Saya mau masuk surga duluan”, katanya. “Kenapa kamu ingin duluan?” tanya malaikat. “Karena saya telah berinfak di jalan kebaikan” jawab orang kaya tadi. “Siapa yang mengajarimu bahwa orang yang berinfak di jalan kebaikan itu akan masuk surga?” tanya malaikat lagi. Lalu dijawabnya, “orang alim yang mengajariku demikian.” Kemudian malaikat menga­takan: “Sopanlah sedikit kepada orang yang telah mengajarimu dan jangan kamu mendahuluinya.”

Kemudian malaikat bertanya kepada orang yang mati syahid, “Apa yang kau inginkan?” “Aku ingin masuk­ surga duluan” jawabnya. “Kenapa demikian?” tanya malaikat­ lagi. “Karena saya syahid dan terbunuh di medan pertempuran membela agama Allah” jawabnya. Lalu, malaikat bertanya lagi, “Siapa yang mengajarimu demikian?” “Orang alim itulah yang mengajariku demikian” jawab­nya. Kemudian malaikat mengatakan: “Sopanlah sedikit kepada orang yang telah mengajarimu dan jangan kamu mendahuluinya.”­

Akhirnya, malaikat memutuskan bahwa orang alim itulah yang akan masuk surga duluan. Akan tetapi, di depan pintu surga, orang alim tersebut berhenti dan mengatakan: “Wahai Tuhan, tolong masukkan orang kaya yang berinfak ini ke surga lebih dahulu dari saya, karena jika tanpa hartanya saya tidak bisa belajar dan menjadi alim seperti ini.”

Akhirnya diputuskan bahwa orang kaya yang berinfak itulah yang masuk surga paling dahulu. Semoga saudara-saudara sekalian yang selalu berinfak dengan hartanya di jalan kebaikan, akan mendapatkan kemuliaan dan surgaNya di akhirat kelak.