Tradisi Kamisan: Evaluasi Mingguan Guru

Salah satu kegiatan mingguan di Pondok Modern ­Tazakka adalah acara Kamisan Guru. Acara ini merupakan acara wajib bagi seluruh guru di Tazakka, baik guru senior­ maupun yunior, tak terkecuali bagi Pimpinan Pondok dan Direktur KMI. Dilaksanakan setiap hari Kamis siang setelah jam KBM.

Maksud dan tujuan utama Kamisan Guru adalah untuk evaluasi secara menyeluruh atas semua kegiatan dan kehidupan pondok selama seminggu, baik KBM maupun non-KBM, serta menjelaskan program-program pondok yang akan dilaksanakan seminggu ke depan.

Selain itu, semua guru juga akan mendengarkan pesan dan nasehat tentang kepondokmodernan yang di­sampaikan langsung oleh Pim­pinan. Biasanya berisi penguatan nilai-nilai kepondokmodernan, visi misi dan strategi yang akan dihadapi. Tidak jarang pula Pimpinan Pondok menggunakan kesem­patan untuk menyampaikan wawasan terkini baik politik, sosial, budaya maupun ekonomi.

Dengan demikian, Kamisan Guru ini bernilai sakral di pondok. Tidak boleh ada yang absen kecuali berhalangan seperti sakit parah atau sedang ditugaskan oleh Pimpinan Pondok keluar kota. Bagi yang absen tanpa keterangan dan seizin langsung dari Pimpinan Pondok, maka hal itu termasuk pelanggaran berat, dan baginya akan dikenai sanksi baik administratif maupun skorsing.

Evaluasi yang berlangsung saat Kamisan Guru dilakukan secara terbuka. Direktur KMI bertugas mengevaluasi secara menyeluruh jalannya KBM selama seminggu, mulai dari pelaksanaan kurikulum, metode mengajar hingga penegakan disiplin mengajar.

Bagi guru yang kedapatan terlambat masuk kelas dalam seminggu akan diumumkan, ditegur keras dan langsung mendapat pembinaan oleh Direktur KMI bersama Bagian Pembinaan Karir Guru. Jika masih terus berulang, maka yang bersangkutan akan diskorsing atau diberhentikan selama-lamanya dari guru pondok.

Guru yang mengajar dengan metode yang kurang tepat tak pelak akan ikut dievaluasi. Termasuk guru yang mengajar tidak sesuai target silabus yang ditetapkan oleh Direktur KMI.

Sementara itu, Direktur Pengasuhan Santri akan mengevaluasi guru-guru dari sisi kepengasuhanan. Misalnya, ­guru-guru terutama para wali kelas yang absen tanpa alasan yang dibenarkan dalam membimbing tahsin dan tahfidzul Quran santri akan mendapat teguran keras dan pembinaan dari Direktur Pengasuhan Santri bersama Bagian Pembinaan Karir Guru.

Mulai dari absensi kehadiran pada bimbingan tahsin dan tahfidzul Quran pada Rabu dan Ahad usai Shalat Subuh, pelaksanaan bimbingan guru-guru pembimbing bagian-bagian OPPM santri, hingga kepada evaluasi pada sarana dan prasarana pondok.

Demikian pula mengevaluasi para wali kamar dan pembimbing asrama, terkait kedisiplinan anggotanya, kerapian dan kebersihan asrama dan kamar-kamar serta kondusifitas kehidupan berasrama para santri. Termasuk dalam hal ini disiplin penggunaan bahasa Arab dan Inggris oleh santri baik di asrama maupun di area pondok keseluruhan.

Direktur Pengasuhan Santri meng­evaluasi pula guru-guru yang diberi tugas di Bagian Pembangunan dan Sarpras. Hal ini untuk memastikan berfungsinya sarana prasarana pondok sehingga dapat mendukung seluruh ke­giatan santri.

Dengan demikian, evaluasi Peng­asuhan Santri bersifat menyeluruh me­liputi semua aspek kehidupan santri selama 24 jam, baik dari sisi pembinaan ubudiyah amaliyah, mentalitas, kreatifitas, dan sarana prasarana.

Setelah Direktur KMI dan Direktur Pengasuhan Santri menyampaikan evaluasinya, maka terakhir Pimpinan Pondok akan memberikan penekanan melalui nasehat-nasehat dan langkah-langkah yang mesti ditempuh untuk perbaikan. Beberapa hal bersifat ­instruksi ­dan pemetaan pekerjaan.

Demikianlah yang terjadi pada forum Kamisan Guru yang berdurasi kurang lebih 1,5 jam. Sekretaris Pimpinan­ Pondok kemudian membuat resume dan memetakan hasil evaluasi dan arahan dari Pimpinan Pondok kepada bagian-bagian yang terkait.

Dalam suasana keterbukaan dan dengan niat untuk ishlah (perbaikan), maka seluruh guru-guru dapat menerimany­a dengan baik dan ikhlas. Tidak ada tradisi protes-memprotes; yang ada hanyalah kesadaran untuk introspeksi agar menjadi lebih baik.

Hal ini terjadi karena sejak awal telah ditanamkan ruh keikhlasan yang berasal dari keterpanggilan untuk mendidik para santri. Selain itu, adanya keteladanan­ dari para Pimpinan Pondok menjadi faktor paling kuat dalam pembinaan para guru dan santri.