Metode Kaderisasi Pemimpin Di Tazakka (Bagian Kedua)

Dalam pembahasan sebelumnya, telah diterangkan pentingnya pola dan metode kaderisasi pemimpin lewat pengarahan, pelatihan dan penugasan. Itu semua dilakukan untuk mencetak kader pemimpin yang berkualitas, berkapasitas, bermental kuat dan berkarakter.

Namun tiga pola tersebut ternyata belum cukup. Berikut adalah metode lain yang diajarkan Tazakka dalam sistem kaderisasi pemimpin.

4. PEMBIASAAN

Dalam proses pendidikan kader, belumlah cukup hanya dengan pengarahan, pelatihan dan penugasan. Maka, pembiasaan merupakan unsur pen-ting dalam pengembangan mental dan karakter santri. Seluruh santri harus bisa membiasakan diri dengan disiplin dan totalitas kehidupan pondok selama 24 jam. Mereka dibiasakan untuk mengikuti aturan disiplin yang berkenaan dengan kegiatan, bahasa, disiplin waktu, ibadah dan semua kegitan dan tugas santri di pondok.

Walaupun pada awalnya banyak santri yang merasa berat menjalankan itu semua, namun karena adanya kontrol dan arahan, akhirnya mereka lama-lama terbiasa dengan disiplin tersebut. Dari kebiasaan yang sudah dijalankan, maka akan menjadi rutinitas dan akhir­nya menjadi sikap bahkan menjadi kebutuhan.­

Maka, yang terpenting adalah mengarahkan para santri, memahamkan dan mengawal sebagai bentuk kontrol. Santri harus paham bahwa semua disiplin saling terkait. Sebagai contoh, disiplin shalat erat hubungannya dengan disiplin agama dan di dalamnya memuat pendidikan, bangun pagi, makan, minum, berbahasa semuanya juga harus dibiasakan, supaya menjadi kebiasaan dan pendidikan dalam mengatur kehidupan kelak.

5. PENGAWALAN

Dalam mendidik santri, tidak cukup memahamkan, mengarahkan dan menugasi mereka. Perlu adanya sistem kontrol berupa pengawalan. Yang dimaksud dengan pengawalan adalah seluruh tugas dan kegiatan santri selalu mendapatkan bimbingan dan pendampingan, sehingga seluruh apa yang telah diprogramkan mendapatkan kontrol, evaluasi dan langsung bisa diketahui.

Pengawalan ini sangat penting untuk mendidik dan memotivasi, tidak saja bagi santri, tetapi juga bagi pengurus, pembimbing, instruktur bahkan kiai juga ikut terdidik. Hal ini seperti ungkapan bahwa guru tidak hanya mengajari muridnya, akan tetapi ia juga mengajari dirinya sendiri, karena sebaik-baiknya belajar adalah mengajar. Maka, mengajari para santri adalah belajar bagi dirinya sendiri.

Pengawakan ini dimaksudkan untuk proses pengendalian santri dan juga guru dalam hal disiplin dan pengendalian mutu pendidikan. Dari sinilah, seluruh guru akan terlibat langsung untuk ikut serta memperhatikan, mengajari dan membimbing seluruh santri. Karena perhatian dan bimbingan serta pengawalan yang baik akan menjadikan santri lebih nyaman, betah, asyik dan menikmati kehidupannya di pondok meskipun penuh dengan disiplin dan kegiatan.

Perlu digaris bawahi, bahwa pengawalan yang dimaksud bukan sekedar pengawalan dalam hal akademis kogitif atau pengajaran semata. Namun pengawalan itu justru lebih banyak menyentuh aspek pendidikan santri yaitu mengawal mental dan moral santri,
sikap dan budi pekertinya, kepemimpinan dan tanggung jawab mereka, disiplin dan keteladanannya. Maka, apabila terjadi pelanggaran akan terdeteksi sedini mungkin sebabnya dan diantisipasi akibat yang timbul.

6. USWAH KHASANAH

Dalam proses mendidik kader, pembiasaan yang dibarengi dengan pengawalan ternyata belum cukup untuk dijadikan barometer kesuksesan pendidikan tersebut. Ada satu aspek lagi yang terpenting yaitu adanya uswah atau keteladanan yang baik. Ingat, bahwa guru itu seperti rasul, dan rasul itu diutus sebagai teladan bagi manusia yang harus selalu mengajarkan kebenaran dan kebaikan.

Uswah hasanah adalah upaya memberikan dan menjadi contoh yang baik bagi orang lain. Maka, proses pendidikan kaderisasi di Tazakka juga melibatkan dan memperlihatkan keteladanan para perintis, pendiri, kiai, pengasuh dan guru, bahkan sampai kepada keteladanan pengurus yang ada di dalam pondok.

Kiai dan semua guru harus mampu dan berusaha untuk memberikan contoh dan teladan yang baik. Keteladanan dalam hal berbicara, berpakaian, bersikap, pemahaman terhadap visi misi, nilai-nilai dan sistem serta keteladanan dalam hal prestasi. Dengan itu semua, santri akan terdidik dan berusaha mencontoh kebenaran-kebenaran serta kebaikan dan prestasi yang dilakukan oleh para guru. Dari situlah muncul kader-kader umat yang punya kapasitas, dedikasi dan prestasi dan akhirnya menjadi kebanggan bagi umatnya.

Sehingga, apa yang dilihat oleh san-tri, yang mereka dengar, mereka rasakan dari totalitas dan dinamika kehidupan pondok adalah pendidikan bagi seluruh santri. Dari keteladanan itu, kiai menjadi terdidik, guru terdidik, pengurus terdidik dan santri pun terdidik. Inilah 6 metode yang dikembangkan dan digunakan untuk mencetak kader umat pemimpin masa depan. Semoga kelak seluruh santri PM Tazakka akan menjadi pemimpin-pemimpin umat masa depan yang berkarakter dan berprestasi.