Masa Depan Dalam Genggaman Islam; KH. Hasan Abdullah Sahal

Islam adalah tuntunan dari Allah SWT untuk manusia dan kemanusiaan; untuk hidup dan kehidupan. Nabi Muhammad­ SAW telah mencontohkan­ mulai dari dakwah, risalah hingga tasyri' atau pelaksanaan tata hidup dan tata cara kehidupan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, yakni 23 tahun, Islam telah tersebar.

Kemudian dilanjutkan oleh Khulafa al-Rasyidin dan khalifah-khalifah berikutnya, sehingga Islam maju pesat dimana-mana, tersiar syariat­nya, dan dapat diterima di seluruh penjuru bumi dan oleh berbagai bangsa dari Barat hingga Timur, termasuk Indonesia.

Dalam kurun waktu tujuh abad, Islam tetap dianut oleh mayoritas umat dan dominan dalam keilmuwan dan peradaban. Islam menjadi kiblat dan pegangan umat manusia baik di Eropa, Asia, dan Afrika. Mereka mengadopsi nilai-nilai Islam dengan puas, memuaskan dan keridhaan. Syariat Islam dipelajari oleh orang-orang non Muslim. Mereka berbondong-bondong masuk Islam.

Setelah abad-abad keemasan itu, umat Islam mulai tertinggal dalam berbagai hal. Tapi kini, Islam mulai diperhitungkan lagi, baik dalam bidang politik kenegaraan, ekonomi maupun etika dan hukum. Masyarakat dunia sekarang banyak yang mengambil nilai-nilai yang ada dalam syariat Islam. Sebab, hukum Islam pada hakikatnya untuk manusia dan kemanusiaan. Apalagi saat ini manusia sudah banyak yang kehilangan kemanusiaannya dikarenakan hukum-hukum yang tidak islami.

Geliat kebangkit­an­ Islam sulit diben­dung. Kembalinya syariat Islam, adat dan tradisi islami, dan peradaban Islam semakin deras. Seantero dunia pun tidak bisa mengelak. Dalam bidang politik dan pemerintahan, tidak sedikit perwakilan Islam di negara-negara mayoritas non Muslim. Sampai-sampai di suatu negara yang minim penduduk Muslimnya, penyembelihan secara islami, yakni sesuai dengan rukun, syarat dan ajaran Islam diberlakukan. Hal tersebut dikarenakan hewan yang di­sembelih secara Islami lebih sehat dan lebih baik untuk dikonsumsi oleh tubuh manusia.

Penemuan demi penemuan di dunia kedokteran semakin mendukung kebenaran Islam dan mematahkan ba­nyak penemuan sebelumnya yang lahir di luar Islam. Banyak penemuan di luar Islam yang ternyata sangat berbahaya dan tidak bersahabat. Dulu Islam menjadi pelopor dunia dan saat ini Islam sudah mulai kembali untuk menjadi kiblat masyarakat dunia.

Sistem ekonomi Islam saat ini ba­nyak diterima. Karena pola pembinaan ekonomi Islam santun, sopan, besahabat dan bersaudara. Hal ini berangkat dari ajaran-ajaran yang telah diajarkan oleh Nabi SAW yang “Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan ucapan-ucapan mereka, dan Allah tidak menghendaki, selain menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai." (Qs. At-Taubah [9]:32) Pada akhirnya orang-orang yang dengkilah yang mempersiapkan kain-kain kafan­ dan kuburan-kuburan kehancuran me­reka sendiri. Inilah yang membuat kita optimis. Apalagi pendidikan Islam sudah banyak diterapkan dan menjamur di masyarakat. Begitu juga media massa Islam, baik cetak maupun elektronik, mulai muncul. Media Islam mengkhususkan penyiaran keislaman, sehingga­ mereka-mereka yang hatinya masih bersih dan pikirannya masih jernih memilih berita yang memperkuat keimanan dan ukhuwwah islamiyyah.­

Keadaan yang seperti ini mesti kita syukuri. Zaman ini adalah zaman perpindahan atau transisi. Memang tidak mudah berjuang di zaman seperti ini. Butuh waktu dan proses, namun semua itu tidak masalah, karena justeru pahala menjadi jaminan dari kesusahpayahan dalam berjuang. Beruntung sekali orang yang hidup di zaman sekarang. Beruntung karena ada tantangan dan tantangan ini menjadi jaminan. Daripada lulus tanpa ujian lebih baik lulus dengan ujian. Jangan terbalik. Kita sedang diuji dan ditantang dan kita harus —dan insyaAllah menang.

Pertolongan Allah itu dekat. Kita pasti akan ditolong. Kita punya tempat berlindung, mereka tidak punya. Maka dengan adanya ajaran, keteladanan dan gerakan yang diintensifkan, sebuah keniscayaan akan menjadi kekuatan dalam hati, pikiran dan perbuatan di tengah-tengah umat Islam yang kemudian akan muncul kejayaan Islam dalam waktu yang tidak telalu lama dan tidak terlalu sulit.

Kita tidak usah menyalahkan gene­rasi masa lalu, tidak usah menyalahkan takdir dan tidak perlu menyalahkan macam-macam. Kita perbaiki saja yang ada, sebab semua punya andil dan pernah berbuat salah. Kita memohon ampun kepada Allah azza wa jalla, lalu mengisi sisa-sisa umur yang pendek dengan amal shalih. Mudah-mudahan menjadi kaffarah bagi amal-amal yang lalu dan Allah menganugerahkan kepada kita tempat yang paling baik, di sisi-Nya.

Islam mulai diperhitungkan lagi, baik dalam bidang politik kenegaraan, ekonomi maupun etika dan hukum.