Menata Hati; KH. Hasan Abdullah Sahal.

Orang itu enak tidak enak di hati (bathiniyah). Orang panas yang tidak enak juga hati. Orang kedinginan yang tidak enak juga hati. Dan yang menentukan enak atau tidak enak hati itu kehidupan. Maksudnya, kehidupan kita ini besar sekali ditentukan oleh hati kita. Kehidupan di komunitas apa saja. Kalau hati tidak enak, ya tidak enak. Makan enak lauk enak sampai ke mulut, sampai ke perut jadi gendut, tetap yang menentukan hati.

Kalian yang menata hati dalam kehidupan. Mengapa? Itu karena, enaknya hati tidak mudah diatur dengan lahiriyah. Enaknya hati diatur oleh yang mempunyai hati. Harta, tahta, wanita termasuk berita. Orang melihat dan membaca
berita, enak atau tidak enak, adalah orang yang menata hati. Artinya, orang mau diumpat atau dipuji kalau hatinya tertata tidak akan terpengaruh. Tapi, kalau orang hatinya kotor, dipuji bangga, diumpat juga kesal. Sama saja kalian yang membuat berita mengumpat-umpat orang puas, tapi ternyata yang kalian umpat kebal. Pasti (akan) tambah kesal lagi.

Kamu memuji orang (orang yang kamu puji cuek). kamu kecewa. Itu karena maunya orang yang kamu puji suka. Kedua-keduanya yang mengatur adalah kamu yang membuat
berita. Jadi, hidup di mana saja hati perlu ditata. Jangan minta ditata orang lain.  Contohnya, ingin rumah yang enak, biar hatinya enak. Ingin kendaraannya enak biar hatinya enak. Artinya, pihak lain yang mengatur. Situasi yang enak biar dikira enak, seakan-akan situasi itu sudah enak, kita menjadi enak. Padahal belum tentu.

Mengharapkan sesuatu, ternyata setelah didapatkan biasa saja. Karena yang bermain hati. Jadi, maka kehidupanmu di mana saja, manajemen organisasi yang ada di dalam menunjukan organisasi yang di dalam itu. Hati yang tertata akan membuat dan itu yang akan menentukan enak atau tidak enak dan tidak mudah terpengaruh oleh pihak mana saja.

Kedua, orang itu biasanya mengukur baju orang lain di badan sendiri. Jadi menyamakan orang dengan dirinya atau menyamakan dirinya kepada orang lain. Misalnya, orang ke sana maksiat, orang kesana juga biasanya maksiat. Ada orang baik ke sana, oh berarti dia juga suka maksiat. Buktinya ia ke sana. Di samakan dengan dirinya dan menuduh orang lain seperti itu.

Selain itu, mungkin kita sering mendengar kata-kata bahwa agama dijadikan kendaraan untuk kekuasaan. Agama diperalat untuk menguasai orang. Mengapa? Kata-kata ini sebenarnya kata-kata Yahudi, kata-kata Yahudi yang ingin memecah belah Islam dengan Islam, memecah belah Islam dengan Kristen, Kristen dengan Kristen. Ini pekerjaan Yahudi. Karena apa? Mereka ingin itu. Zionisme itu orang Yahudi, memperalat agama untuk kepentingan pribadi, bangsa, umat, dan golongan. Begitulah  Yahudi.

Lah umat Islam dituduh begitu, karena dianggap sama dengan mereka. Celakanya, umat Islam memang banyak yang berbuat demikian. Memperalat agama untuk kepentingan pribadi, kedudukan, keluarga, dan politik. Karena banyak yang begitu. Tapi, supaya tahu, itu ashluhu dari Yahudi. Orang Kristen juga sama demikian. Karena, dengan alat-alat gereja, orang-orang gereja ini dengan dalilnya agama. Dengan Kristen Katholik mereka bisa mengumpulkan uang bisa berkendaraan enak.

Jadi, mereka menganggap memperalat agama untuk kepen-tingan. Kita juga dituduh begitu. Celakanya, memang orang-orang Islam juga banyak yang kena penyakit itu. Apa kita akan menjadi itu? Yang menjawab adalah kalian sendiri yang tahu.

Ketiga, sakral. Kata-kata sakral, sakral itu saya artikan suci, saya artikan amanat, saya artikan keikhlasan, saya artikan agama, saya artikan ibadah. Kamu sudah ikrar, deklarasimu, hak asasimu, yang tidak boleh ditebus oleh siapa saja. Yaitu yang kamu ucapkan setiap kali shalat inna shalati wanusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin. Ini tidak bisa ditebus orang komunis, orang nasionalis, orang sekuler, orang kebangsaan. Mereka paling benci kata-kata itu. Itu karena umat Islam mempunyai deklarasi.

Jadi, percuma ikrar prajurit, percuma ikrar mahasiswa, percuma ikrar setia perguruan tinggi. “Percuma.” Tetap kalah dengan deklarasimu. Di Al-Qur’an itu ada inna shalati wanusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin. Itu ada dalam Al-Qur’an dan kamu deklarasikan. Inilah. Sakralnya itu di sini. Kehidupan yang sakral harus dihidupkan terus. Kalau tidak (kita) akan kecewa.

"Hati yang tertata akan membuat dan itu yang akan menentukan enak atau tidak enak dan tidak mudah terpengaruh oleh pihak mana saja".