Mau Bekerja Bukan Asal Bekerja; KH Imam Zarkasyi

Saya bersyukur kepada Allah SWT. Dia yang telah memberi saya rezeki dari beberapa segi. Bukan dari pondok, bukan dari santri, bukan pula dari lainnya. Ini hadiah Allah. Inilah kesyukuran kami.

Meski saya tidak dapat menjanjikan, kalau anak-anak kelak mau berjuang seperti saya, dengan izin Allah kalian akan berjaya. Mungkin kalian harus dicoba dulu dengan kemelaratan. Kalian akan diuji.

Allah berfirman, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan . (QS al-Baqarah/2: 155).

Ketika   zaman   gerilya   dulu, kami betul-betul makan gaplek. Itu ujian dari Allah. Anehnya, ketika itu makanan belum ada yang memenuhi syarat seperti yang kalian dapatkan sekarang. Tapi ternyata sama sehatnya seperti yang sekarang kalian rasakan.

Ketika menghadapi semua itu, hati kami sama sekali tidak kecil. Kami merasa seperti mempunyai simpanan besar tapi belum bisa diambil. Karena hati tidak kecil, maka kami bisa terus berjalan, dan terus, hingga seperti sekarang ini.

Dalam beramal, segala usaha pasti akan gagal, kecuali jika kalian benar-benar yakin, beriman, bekerja dengan penuh keyakinan, dan mau bekerja. Wa 'amilu (kerjakanlah), bukan "hanya" asal bekerja saja.

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, nasihat menasihati supaya menaati kebenaran, dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (QS al-‘Ashr/103: 1-3).

Tafsirnya, 'amilu itu ash-shalihat. Bukan asal bekerja, tapi bekerja de-ngan perhitungan. Berusaha itu harus mau. Jika mau bekerja mencari yang baik, pasti tak akan gagal.

Lalu, mencari yang baik itu bagaimana? Dalam ayat di atas disebutkan, "watawasau bil-haqqi" Harus mau diingatkan, dikoreksi. Harus kita terima kalau memang koreksi itu benar.

Kemudian terakhir, "watawasau bish-shabri". Harus sabar, harus betah. Berusaha itu harus betah. Walau ujian dalam usaha itu banyak, tapi semua-nya harus diterima. Dan kita harus lulus (dalam ujian itu).

Setiap tahun hingga bulan, kita akan diuji. Kalau akan ada ujian pertengahan tahun umpamanya, semua murid hingga guru harus menghadapi ujian. Jika yang menguji baik, yang diuji pun akan baik.

Jadi dengan kata lain, segalanya harus serius. Memegang pondok harus serius. Jangan karena menganggap sebuah tugas sudah selesai, ya dianggap sudah. Ditinggal tidur atau lainnya.

Ada  suatu  sekolah  dengan model baru, pengajarannya full time  berbahasa  Arab,  muridnya mula-mula juga banyak dari beberapa penjuru, tapi akhirnya bubar. Apa sebab? Karena yang mendirikannya  menurut  bahasa  orang  Solo "naming dados mandor mawon ". Hanya mandori saja, tidak menangani betul-betul.

Maka, kata-kata wal 'ashri, bisa di-terjemahkan dengan "demi segala zaman”. Innal-insaana lafi khusrin: tiap-tiap manusia yang bernama insan akan sia-sia hidup, usaha, dan dikatakan gagal. Kecuali yang beriman.

Yang beriman itu bagaimana? Ya yang mempunyai keyakinan betul-betul. Lillah dalam pekerjaannya. Dan “wa'amilu”, mau bekerja, bukan mau jadi mandor saja, cuma cari yang enak dan mudah. Juga wa'amilush-shalihat.

Jangan seperti guru-guru, terlebih guru-guru sekolah negeri yang sudah menjadi pegawai negeri misalnya, yang sudah dibayar tapi kemudian mengajar seenaknya. Murid tidak mengerti, katanya, salah sendiri. Tanggung jawabnya kepada masyarakat dan orangtua tidak ada.

Kemudian tawasau, mau diingatkan dan mau mengingatkan. Bil-haqqi, dalam kebenaran, lalu watawasau bish-shabri. Ini memang berat. Tapi barang yang berat jika disengaja atau diniati untuk dilakukan, seperti orang yang main sepakbola, maka akan se-nang dikerjakan.

Dalam syair-syair digambarkan seperti orang yang sedang senang (cinta) kepada kekasihnya. Biasanya ia tak akan memandang berat ringan sesuatu. Apapun yang akan terjadi akan dilalui, karena ia senang melakukannya. Seperti guru, senangnya kalau mengajar, bukan senang jika menerima bayaran.

Ini perlu kami sampaikan kepada anak-anakku. Dan alhamdulillah saya bisa menyampaikannya. Mari kita besarkan dan kuatkan hati untuk berjuang demi masa depan.

Apapun yang akan terjadi akan dilalui, karena ia senang melakukannya. Seperti guru, senangnya kalau mengajar, bukan senang jika menerima bayaran.