Berzakatlah Lewat Amil

Pekerjaan amil zakat sungguh berat, selain mendata para muzakki dan mustahik, juga punya kewajiban mendistribusikan zakat secara benar sesuai syariat dan tepat sasaran. Sejati-nya, distribusi zakat itu konsepnya door to door, dari rumah ke rumah. Supaya amil bisa mengetahui lebih dekat kondisi riil mustahik. Mungkin saja ada yang malah perlu dibantu hidupnya selama setahun, atau dibantu dengan diberi modal kerja, dan lain sebagainya. 
Maka, Maha Benar Allah dan Rasul-Nya yang telah membuat ketentuan adanya amil dalam ibadah zakat. Dengan demikian, zakat sebaiknya melalui amil, bukan dibagi sendiri-sendiri. Tentu amil yang amanah dan mau bekerja keras untuk umat. Cari lembaga amil zakat yang amanah!
Saya dan keluarga berzakat selalu lewat amil. Tidak pernah bagi sendiri; kalau pun ada yang saya bagikan sendiri, itu sedekah biasa, tidak saya masukkan dalam rekap zakat. Karena zakat itu hak orang lain, bukan uang kita.
Salah satu hikmah berzakat lewat amil adalah kita tidak punya kontak langsung dengan mustahik, jadi tidak merasa berjasa. Jangan sampai kita bayar zakat merasa telah berjasa atau telah berbuat baik. 
Zakat yang tidak lewat amil, atau yang dibagikan sendiri ada kemungkinan nanti tidak merata, ada asnaf ghorimiin (orang yang terlilit hutang untuk makan), misalnya, ini siapa yang mengurus? Mualaf juga demikian, siapa yang memperhatikan? Apakah jika kita membagikan sendiri zakat kita secara langsung akan detail memperhatikan asnaf-asnaf itu, atau hanya asal bagikan saja kepada yang dikenalnya? Padahal ada delapan asnaf (delapan kelompok) yang masuk kategori penerima zakat. 
Jika dibagi sendiri, dikhawatirkan ada kecenderungan hanya orang yang kita sukai saja yang dapat; orang yang kebetulan tidak kita sukai, atau malah memusuhi, biasanya tidak dapat. Nah, kalau lewat amil bisa teratasi. Maka, amil itu terdiri dari orang banyak, jadi tidak boleh atas dasar suka atau tidak suka. Harus obyektif. Itulah amanah!
Amanah jangan sekedar dipahami bahwa dana zakat tidak diselewengkan, tapi amanah juga terkait dalam hal obyektifitas distribusi. "Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil kepadanya. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa." (Qs. [5]: 8)
Zakat bukan pemberian, tetapi penunaian hak. Jadi, jika ada orang berzakat belum bisa dibilang telah memberi, karena harta itu orang lain yang diamanahkan kepada kita. Yang dika-tegorikan telah memberi adalah infak (di luar kewajiban zakat), termasuk wakaf. 
Memang, saat kita memutuskan mengubah zakat lewat amil, pasti ada godaannya, mungkin orang yang selama ini kita beri langsung akan protes. Tetapi, sebetulnya ketika kita zakat lewat lembaga amil, orang yang biasa kita beri bisa diusulkan untuk dapat bagian. 
Zakat dengan nominal Rp. 20 ribuan yang dibagi-bagi langsung menurut saya bukan zakat; itu lebih tepat disebut membagi-bagi permen, kalau boleh saya istilahkan demikian. Seharusnya lihat dulu kebutuhan orang itu, jika butuhnya dibelikan mesin jahit buat usaha ya dibelikan. Sehingga orang yang hari ini nerima zakat, diharapkan tahun berikutnya dia tidak menerima lagi karena sudah naik taraf hidupnya.
Di Lazis Tazakka, rata-rata tiap tahun 3 sampai 5 orang yang keluar dari daftar mustahik karena telah kategori mampu. Memang, masih jauh dari harapan, tapi selalu berkembang.
Tahun 2017 lalu, ada sekitar 1400an mustahik yang mendapat bagian dari Lazis Tazakka. Maka, para amilin di Lazis Tazakka pun door to door kepada mereka.
Banyak kisah heroik yang ditemukan saat distribusi itu. Ada ibu-ibu tua yang "tidak mau menerima" zakat, dan memaksa kita untuk langsung membayarkannya ke warung sebelah, karena ternyata dia hutang untuk kebutuhan makan tiap harinya di warung itu. Maka, setelah jatahnya terbayarkan semua untuk lunasi hutang, saya perintahkan lagi amil untuk ke rumahnya memberi bagian lagi.
Ada pula yang begitu menerima langsung lari sambil teriak-teriak kegirangan, lupa mengucapkan terima kasih, meskipun tidak wajib. Ternyata ia langsung pergi ke warung dekat rumahnya. Apa yang dibeli? Beras dan telor untuk makan. Ini potret kemiskinan umat yang telah demikian menghimpit mereka. 
Ada lagi yang usai nerima zakat, seisi rumah keluar semua, dan yang luar biasa, saat mau salaman dengan petugas amil kita, ternyata seisi rumah tangannya sakit kulit (gatal-gatal semacam koreng). Apa yang kami lakukan? Membawanya ke dokter kulit!
Model pembagian zakat dengan mengundang mustahik selain tidak manusiawi, tidak mendidik, juga tidak sesuai aturan. Istilah saya, amil menjadi enak, tidak ada kerjaan. Untuk apa menjadi amil jika hanya begitu?
Amil adalah pekerjaan sepanjang tahun, bukan musiman Ramadhan saja. Karena orang berzakat juga sepanjang tahun. Maka, bekerja keraslah memberikan pemahaman, penyadaran dan ajakan kepada para muzakki untuk berzakat. Sedangkan untuk distribusinya, saya tegaskan, konsep yang benar itu amil mendatangi mustahik, bukan mengundang!
Inilah jihad kemanusiaan kita, semoga diterima oleh Allah SWT.
Salah satu hikmah berzakat lewat amil adalah kita tidak punya kontak langsung dengan mustahik, jadi tidak merasa berjasa. Jangan sampai kita bayar zakat merasa telah berjasa atau telah berbuat baik.