Kedudukan Rasulullah SAW Di Hadapan Allah SWT

Tahukah, kedudukan Nabi Muhammad SAW di hadapan Allah SWT?

Jika ditelusuri ayat-ayat dalam Al-Quran, tiap kali Allah SWT menyeru para nabi dan rasul, selalu menyerunya dengan sebutan namanya.

Perhatikanlah:

- "Hai Adam, tinggallah kamu dan isterimu di surga ini..." (Qs. [2]: 35)

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ

- "Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh..." (Qs. [19]: 12)

يَا يَحْيَىٰ خُذِ الْكِتَابَ بِقُوَّةٍ ۖ

- "Dan Kami panggil dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu..." (Qs. [37]: 104-105)

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيم. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا

- "Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami..." (Qs. [11]: 48)

يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ

- "Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan kelahiran seorang anak yang namanya Yahya..." (Qs. [19]: 7)

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى

- "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan mematikanmu dan mengangkatmu kepada-Ku..." (Qs. [3]: 55)

يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَي

- "Hai Musa, sesungguhnya, Akulah Allah, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Qs. [27]: 9)

يَا مُوسَىٰ إِنَّهُ أَنَا اللَّهُ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Akan tetapi, di dalam Al-Quran, Allah SWT, Tuhan langit dan bumi itu sama sekali tidak pernah memanggil kekasihnya, Muhammad SAW dengan sebutan namanya saja, misal: "Hai Muhammad". Melainkan, Dia memanggilnya dengan:

"Wahai Nabi"; "Wahai Rasul"; "Wahai orang yang berselimut" dan sebutan-sebutan lainnya. Tetapi tidak langsung menyebut namanya.

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا

"Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan,..." (Qs. [33]:45)

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ

"Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu..." (Qs. [5]: 67)

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّر

"Wahai orang yang berselimut... " (Qs. [74]: 1)

Ini adalah bentuk pemuliaan dan pengormatan dari Allah kepada kekasih-Nya itu. Oleh karenanya, Allah mengingatkan kita beberapa hal terkait sikap dan adab kita kepada kekasihnya itu.

1. Sebaiknya jangan memanggil Rasul dengan namanya saja, karena Allah sangat memuliakannya. Jangan sampai panggilan kita kepada Rasulullah seperti halnya panggilan kita kepada sesama kita. Apakah pantas panggilan kepada Rasul sama dengan panggilan kita kepada teman sejawat?

(لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ) [النور 63]

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain)." (Qs. An-Nur [24]: 63)

2. Dalam bersuara, hendaknya yang wajar, jangan terlalu kasar. Sebagaimana semasa hidupnya Rasul tidak pernah berkata kasar. Jangan sampai suara kita melebihi suara Rasul. Maka, bertuturlah yang lembut dan penuh kesantunan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu, sedangkan kamu tidak menyadari." (Qs. Al-Hujurat [49]: 2)

3. Merendahkan suara di hadapan Rasul. Dahulu, para sahabat jika ingin menyampaikan atau mengatakan sesuatu kepada Rasul, mereka melakukannya dengan suara yang rendah, tidak mengangkat suara yang menunjukkan kesombongan seperti tidak menghormati Rasul.

Adab ini dipahami oleh para ulama sebagai berlaku pula antara murid dengan guru. Maka, tidak sepatutnya murid berkata keras, apalagi mengangkat suara di hadapan gurunya. Akan tetapi, tunjukkanlah sikap penghormatan, memuliakan dan rendah hati di hadapan sang guru atau orang tua.

(إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَىٰ ۚ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ) [الحجرات 3]

"Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar." (Qs. Al-Hujurat [49]: 3)

Cuplikan ayat ketiga dari Surat Al-Hujurat ini terpampang pula di atas makam Rasul SAW di Masjid Nabawi. Perhatikanlah jika Anda berziarah ke makamnya.

Para ulama memahami pula bahwa saat berziarah ke makam Rasul pun, kita hendaknya tetap merendahkan suara dan merendahkan hati dan diri kita di hadapannya. Jangan berteriak-teriak, meskipun untuk mengucapkan salam dan shalawat kepadanya.

4. Ucapkanlah shalawat kepadanya jika mendengar namanya disebut.

 عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ أَبْخَلَ النَّاسِ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

"Orang yang paling kikir adalah orang yang jika disebut namaku, ia tidak bersholawat kepadaku" (Ibnu Hajar Al-Asqolani)

Demikianlah, semoga kita selalu diberi petunjuk oleh Allah untuk bisa memuliakan dan mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW.