Ziarah Ke Makam Imam Bukhari Di Samarkand

SAMARKAND - Alhamdulillah, pada hari Ahad, 3 Rabiul Awwal 1440 bertepatan dengan 11  November 2018, kami mendapat keberkahan Allah SWT dengan mengunjungi makam Imam Bukhari di Samarkand, Uzbekistan. Saya bersama akhi Kiai Anizar Masyhadi dan Bapak Teguh Suhardi dari Pondok Modern Tazakka mendampingi Syaikh Dr. Muhammad Rajab Deeb dari Suriah bersama rombongan para ulama dari berbagai negara: Indonesia, Malaysia, Pakistan, India, Bangladesh, Amerika, Perancis, Belgia, Luxemberg, Jerman, Inggris, Suriah, Mesir, Australia dan lain-lain.

Adakah orang muslim yang tidak mengenal Imam Bukhari? Hampir dipastikan tidak ada! Sebab, melalui hadis-hadis yang diriwayatkannya yang sanadnya bersambung kepada Rasul SAW, Imam Bukhari-lah menjadikan Hadis dan Sunnah Rasul sampai kepada kita hari ini; baik apa yang diucapkan, dilakukan maupun diputuskan oleh Rasul SAW. Maka, jasanya bagi umat Islam sepanjang masa sungguh sangat fundamental.

Kompilasi hadis-hadis shahih dari Rasul yang dikumpulkannya, yang terkenal dengan Kitab Shahih Bukhari, disepakati oleh ulama seluruh dunia sebagai kitab paling otentik kedua setelah Al-Quran. Berikut saya kutipkan tentang sosok Imam Bukhari dari berbagai sumber.

Imam Al-Bukhari lahir di Bukhara, Uzbekistan (Asia Tengah) 13 Syawal 194 H (21 Juli 810) dan wafat pada 256 H (870). Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju'fi al-Bukhari.

Beliau adalah ahli hadis yang termasyhur di antara para ahli hadis sejak dulu hingga kini bersama dengan Imam Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majah. Bahkan, dalam kitab-kitab fiqih maupun hadis, hadis-hadis yang dikompilasikan oleh Imam Bukhari memiliki derajat yang tinggi. Sehingga dunia Islam sepakat menyebutnya dengan julukan Amirul Mukminin fil Hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam hal ilmu hadis). Dalam bidang ini, hampir semua ulama di dunia merujuk kepadanya.

Bukhari dididik dalam keluarga ulama yang taat beragama. Dalam kitab ats-Tsiqat, Ibnu Hibban menulis bahwa ayahnya dikenal sebagai orang yang wara' dalam arti berhati-hati terhadap hal hal yang bersifat syubhat (meragukan) hukumnya terlebih-lebih terhadap hal yang haram. Ayahnya adalah seorang ulama bermadzhab Maliki dan merupakan murid dari Imam Malik, seorang ulama besar dan ahli fikih. Ayahnya wafat ketika Bukhari masih kecil.

Bukhari berguru kepada Syekh Ad-Dakhili, ulama ahli hadis yang masyhur di Bukhara. Pada usia 16 tahun bersama keluarganya, beliau mengunjungi Kota Suci terutama Mekkah dan Madinah, di mana di kedua Kota Suci itu dia mengikuti kajian para guru besar hadits.

Imam Bukhari memiliki daya hafal tinggi sebagaimana yang diakui kakaknya, Rasyid bin Ismail. Sosok yang ramah dermawan dan banyak menyumbangkan hartanya untuk pendidikan.

Untuk mengumpulkan dan menyeleksi hadis shahih, Bukhari menghabiskan waktu selama 16 tahun untuk mengunjungi berbagai kota guna menemui para perawi hadis, mengumpulkan dan menyeleksi hadisnya. Di antara kota-kota yang disinggahinya antara lain Bashrah, Mesir, Hijaz (Makkah dan Madinah),  Kufah, Baghdad sampai ke Asia Barat. Di Baghdad, Bukhari sering bertemu dan berdiskusi dengan seorang ulama besar, Ahmad bin Hanbal. Di kota-kota itu ia bertemu dengan sekitar 80.000 perawi. Dari mereka, sang Imam Bukhari mengumpulkan dan menghafal satu juta hadis.

Namun tidak semua hadis yang ia hafal kemudian diriwayatkan, melainkan terlebih dahulu diseleksi dengan seleksi yang sangat ketat diantaranya apakah sanad (riwayat) dari hadis tersebut bersambung dan apakah perawi (periwayat/pembawa) hadis itu terpercaya dan tsiqqah (kuat).

Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, akhirnya Bukhari menuliskan sebanyak 9082 hadis dalam karya monumentalnya Al-Jami' al-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari. Banyak para ahli hadis yang berguru kepadanya seperti Syekh Abu Zahrah, Abu Hatim Tirmidzi, Muhammad Ibn Nasrdan dan Imam Muslim.

Di antara guru-gurunya dalam memperoleh hadis dan ilmu hadis adalah Ali ibn Al-Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma'in, Muhammad ibn Yusuf Al Faryabi, Maki ibn Ibrahim Al-Bakhi, Muhammad ibn Yusuf Al-Baykandi dan Ibnu Rahawaih. Selain itu ada 289 ahli hadis yang hadisnya dikutip dalam bukunya "Shahih Bukhari".

Dalam meneliti dan menyeleksi hadis dan diskusi dengan para perawi, Imam Bukhari sangat sopan. Kritik-kritik yang ia lontarkan kepada para perawi juga  halus namun tajam. Tentang perawi yang sudah jelas kebohongannya ia berkata, "Perlu dipertimbangkan, "Para ulama meninggalkannya", atau "Para ulama berdiam diri dari hal itu" sementara perawi yang hadisnya tidak jelas ia menyatakan, "Hadisnya diingkari". Bahkan banyak meninggalkan perawi yang diragukan kejujurannya. Dia berkata, "Saya meninggalkan sepuluh ribu hadis yang diriwayatkan oleh perawi yang perlu dipertimbangkan dan meninggalkan hadis-hadis dengan jumlah yang sama atau lebih, yang diriwayatan oleh perawi yang dalam pandanganku perlu dipertimbangkan".

Banyak para ulama atau perawi yang ditemui sehingga Bukhari banyak mencatat jati diri dan sikap mereka secara teliti dan akurat. Untuk mendapatkan keterangan yang lengkap mengenai sebuah hadis, mencek keakuratan sebuah hadis ia berkali-kali mendatangi ulama atau perawi meskipun berada di kota-kota atau negeri yang jauh seperti Baghdad,  Kufah, Mesir, Syam, Hijaz seperti yang dikatakan dia "Saya telah mengunjungi Syam, Mesir, dan Jazirah masing-masing dua kali; ke Basrah empat kali, menetap di Hijaz selama enam tahun, dan tidak dapat dihitung berapa kali saya mengunjungi Kufah dan Baghdad untuk menemui ulama-ulama ahli hadis."

Di sela-sela kesibukannya sebagai ulama pakar hadis, ia juga dikenal sebagai ulama dan ahli fiqih, bahkan tidak lupa dengan kegiatan kegiatan olahraga dan rekreatif seperti belajar memanah sampai mahir. Bahkan menurut suatu riwayat, Imam Bukhari tidak pernah luput memanah kecuali dua kali.

Kebesaran akan keilmuan beliau diakui dan dikagumi sampai ke seantero dunia Islam. Di Naisabur, tempat asal Imam Muslim seorang ahli hadis yang juga murid Imam Bukhari dan yang menerbitkan kitab Shahih Muslim, kedatangan beliau pada tahun 250 H disambut meriah, juga oleh guru Imam Bukhari sendiri Muhammad bin Yahya Az-Zihli. Dalam kitab Shahih Muslim, Imam Muslim menulis. "Ketika Imam Bukhari datang ke Naisabur, saya tidak melihat kepala daerah, para ulama dan warga kota memberikan sambutan luar biasa seperti yang mereka berikan kepada Imam Bukhari". Namun kemudian terjadi fitnah yang menyebabkan Imam Bukhari meninggalkan kota itu dan pergi ke kampung halamannya di Bukhara.

Seperti halnya di Naisabur, di Bukhara dia disambut secara meriah. Namun ternyata fitnah kembali melanda, kali ini datang dari Gubernur Bukhara sendiri, Khalid bin Ahmad Az-Zihli yang akhirnya Gubernur ini menerima hukuman dari Sultan Uzbekistan Ibn Tahir.

Tak lama kemudian, atas permintaan warga Samarkand sebuah negeri tetangga Uzbekistan, Imam Bukhari akhirnya menetap di Samarkand. Tiba di Khartand, sebuah desa kecil sebelum Samarkand, ia singgah untuk mengunjungi beberapa familinya. Namun disana Bukhori jatuh sakit selama beberapa hari, dan akhirnya meninggal pada tanggal 31 Agustus 870 M (256 H) pada malam Idul Fitri dalam usia 62 tahun kurang 13 hari. Ia dimakamkan selepas Salat Dzuhur pada Hari Raya Idul Fitri.

Semoga kita semua dan generasi penerus Islam dapat meneladani sosok Imam Bukhari, baik secara akhlak maupun keilmuan serta kontribusinya kepada Islam dan muslimin.

@anangrikza & @anizar

Samarkand,

4 Rabiul Awwal 1440

12 November 2018

www.tazakka.or.id