Ujian Bahasa Asah Kemampuan Santri pada Bahasa Asing

TAZAKKA - Central Language Improvement (CLI) Office bersama Language Development Council (LDC), lembaga yang khusus menangani pengembangan bahasa di Pondok Modern Tazakka menyelenggarakan ujian bahasa Arab dan Inggris, mulai tanggal 19 hingga 21 Maret ini berturut turut.

Ujian yang diikuti oleh seluruh santri kelas 1 hingga kelas 5 KMI Tazakka itu dimaksudkan untuk menguji penguasaan santri akan kosakata harian yang diberikan setiap hari usai shalat subuh dan tilawah Quran di asrama masing masing.

Aspek yang diujikan ada empat, yaitu yang meliputi keterampilan menyimak (maharatul istima' / listening), keterampilan memahami teks (maharatul qira'ah / reading),  keterampilan bercakap cakap (maharatul muhadatsah / speaking), dan keterampilan mengarang (maharotul kitabah / writing).

Ustadz Ferry Hidayat, S.Th.I selaku Kepala LDC mengatakan bahwa ujian bahasa diadakan setiap semester, biasanya sebelum ujian semesteran. Kosa kata yang diberikan setiap habis subuh melalui kamar-kamar di asrama, dalam satu semester masing-masing untuk bahasa Arab dan Inggris berjumlah sekitar 150an kosa kata, ditambah dengan 30an idiom ungkapan dalam kalimat atau struktur.

"Itu kosa kata yang diberikan di luar pelajaran di kelas ya, bedanya yang di kamar-kamar itu kosa kata yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari mereka, kalau yang di kelas kan masuknya ke ujian semesteran KMI" terang Ferry.

Selain ujian bahasa, CLI dan LDC juga menyelenggarakan kursus Toefl dan Bahasa Arab. "Ini masuk kegiatan ekstra-kurikuler, tapi nanti ada ujian toefl juga, dan yang bahasa Arab kami ambil modul yang dari Saudi Electronic University, Riyadh yang telah berstandar internasional" ungkapnya.

Nilai ujian bahasa ini akan diterakan dalam Raport Mental Santri, yaitu raport yang mendeskripsikan secara holistik prestasi santri dalam aspek afektif, kognitif, dan psikomotorik,  disamping nilai akademik mereka dalam pelajaran di kelas-kelas.

Menurut Direktur KMI, Kiai M. Bisri, S.H.I., M.Si, Pondok Modern Tazakka memandang bahwa prestasi santri tidak cukup hanya dipotret lewat prestasi akademisnya di kelas, tapi juga harus bisa dipotret lewat soft skills dan hard skills yang ditumbuh-kembangkan oleh santri dalam kegiatan organisasi yang ia lakoni, kegiatan olahraga yang ia mainkan, aktivitas yang menunjang skill kebahasaan yang ia biasakan, dan program tahfidz-tahsin Qur'an yang ia geluti setiap hari di Tazakka. "Jadi hakekatnya hampir semua aspek dinilai" ujarnya.

"Itulah yg dinamakan pendidikan insan kamil yaitu pendidikan yang menumbuhkan semua potensi santri untuk menuju kesempurnaan insani" imbuhnya. @syaifuna