Ajak Pesantren Lain, Tazko Adakan Pelatihan Bikin Sabun Dan Deterjen

TAZAKKA - Dalam rangka meningkatkan kemandirian ekonomi pesantren, Pondok Modern Tazakka melalui Tazakka Toko (Tazko) menyelenggarakan pelatihan pembuatan sabun deterjen bubuk, cair, dan nata de coco. Pelatihan digelar di Tazakka Toko, Senin pagi hingga sore, (5/2).

Pelatihan terselenggara atas kerjasama Tazko dengan Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I) dan Gerakan Beli Indonesia asuhan Pengusaha H. Heppy Trenggono.

Wahyu, Staf Tazko yang sekaligus menjadi panitia mengatakan bahwa pelatihan ini mengajak beberapa pesantren dalam naungan FSKM, FPA, dan ITMAM di sekitar Batang, Pekalongan dan Tegal.

"Alhamdulillah peserta sesuai target, diantaranya ada dari PP Nurul Hikmah Tegal, PP Nurul Barokah Purbalingga, PP Darul Amanah Kendal, PP Al-Amiriyah Tegal, PP Darul Ishlah Bandar Batang, PP Al-Abror Tegal, dan PP Roudlotut Tholibin Bandar Batang, dan lain-lain" papar Wahyu.

Pimpinan Pondok KH. Anang Rikza Masyhadi dalam sambutannya saat membuka pelatihan menekankan pentingnya membangun kemandirian ekonomi umat. Menurutnya, umat Islam jangan hanya bangga menjadi konsumen tetapi bagaimana mulai berpikir menjadi produsen.

"Kita ini jumlahnya besar, jadi istilahnya itu captive market, sayangnya selama ini kita jadi target pasar orang lain terus" tegasnya.

Kiai Anang menyinggung tentang lemahnya etos kerja umat yang disebabkan oleh mindset yang keliru. "Jadi, kita ini sebetulnya secara tidak sadar sedang melestarikan kemiskinan diri kita sendiri, orang lain dan bangsa lain yang kaya raya karena kita" tambahnya.

Maka, lanjutnya, perlu reposisi umat Islam dalam konteks pasar ekonomi yaitu dengan memulai memproduksi sendiri kebutuhan sehari-hari. Sehingga, perlahan-lahan akan bisa mengubah keadaan dari konsumen menjadi produsen.

Ibaratnya, kiai di pesantren yang belajar kaidah ushul fiqh 'maa laa yudroku kulluhu laa yutroku kulluhu', apa yang tidak bisa diperoleh semua jangan ditinggalkan semua, maka apabila umat Islam belum bisa memproduksi semua kebutuhannya, bukan berarti tidak memproduksi apapun yang mungkin bisa dilakukan.

"Ya, contohnya seperti yang hari ini kita laksanakan, membuat deterjen sendiri, sabun sendiri, nata de coco sendiri, minimal dengan memproduksi untuk kebutuhan sendiri seperti ini kita sudah tidak lagi menjadi konsumen" paparnya.

Sektor-sektor lain seperti sektor pangan juga perlu mendapat perhatian. Jika pesantren santrinya 500 saja, berarti ada 500 mulut butuh makan, minum dan jajanan setiap harinya. Maka, lanjut Kiai jebolan Al-Azhar itu, pesantren harus pula mengembangkan industri pangan sendiri. "Seperti kita buat pabrik roti sendiri, sehingga selain lebih sehat keuntungannya kembali ke pesantren lagi untuk menekan biaya operasional" ujarnya.

Hal senada disampaikan pula oleh Ibu Deci Anawati, perwakilan dari YP3I dan Beli Indonesia. Menurutnya banyak produk-produk kebutuhan sehari-hari rumah tangga yang sebetulnya sangat sederhana teknologinya dan biaya murah. Hanya saja, umat sudah terlalu lama dalam situasi mental block, mental kalah, mental konsumen, maka harus mulai diubah menjadi mental produsen.

"Seringkali kita ini hanya lihat packagingnya saja, sebetulnya kita seringkali malah beli merek daripada beli barang, padahal barang dengan kualitas yang sama lain merek lebih murah kita tidak mau beli, apalagi barang itu produksi teman kita sendiri, kagak keren katanya, nah ini mental yang keliru menurut saya" tandas Bu Deci.

Di situlah semangat Gerakan Beli Indonesia digaungkan, yaitu semangat pembelaan pada produk-produk dalam negeri, dan produk-produk teman sendiri. "Ini sebetulnya mengadopsi konsep ta'awun dan ukhuwah Islamiyyah dan wathaniyyah, jadi yang bangkit, yang maju dan yang kaya itu kita, bukan memajukan dan mengkayakan orang lain, apalagi bangsa lain" cetusnya.

Para peserta tampak antusias mengikuti pelatihan yang dipandu oleh tim dari YP3I, Bu Endah dan Pak Fauzi Sucipto, suami-isteri yang sarjana tekonologi pangan dan kimia itu. "Peserta juga disuruh praktek langsung jadi lebih meresap ilmunya" tutur Wahyu, Staf Tazko.

KH. Syafii, Pengasuh PP Nurul Barokah di Purbalingga Jateng merasa puas dan senang pesantrennya bisa ikut pelatihan. "Kami tambah ilmu dan semangat, insyaAllah segera realisasi buat sendiri deterjen dan sabun cair untuk santri-santri supaya belajar mandiri" tuturnya.

Usai pelatihan para kiai dan utusan pesantren berkumpul bersama Pimpinan Pondok KH. Anang Rikza Masyhadi. Beliau memberikan arahan terkait rencana tindak lanjut dari pelatihan itu.

"Silahkan, habis ini panjenengan semua kembangkan sendiri, ilmunya sudah ada dan sudah bisa, minimal untuk kalangan sendiri dulu, jangan berhenti mencoba dan melakukan terobosan, insyaAllah Tazakka siap membantu mendampingi panjenengan semua, supaya dunia pesantren kita ini benar-benar mandiri secara ekonomi dan maju" tukasnya. @helmi-fikri