Tazakka & Kospin Jasa Gelar Seminar Waris dan Wakaf

TAZAKKA - Pondok Modern Tazakka bekerja sama dengan Kospin Jasa menggelar Seminar dan Konsultasi Waris, Wakaf dan Islamic Financial Planning di Pusdiklat Kospin Jasa Pekalongan, Kamis (21/12).

Seminar menghadirkan narasumber KH. MHD Jabal Alamsyah, Lc., MA., Direktur Center for Mawarits Studies (CMS) Unida Gontor dan KH. Anang Rikza Masyhadi, MA., Pimpinan sekaligus Pengasuh PM Tazakka.

Seminar diikuti kurang lebih 60an orang yang terdiri dari para pengusaha, notaris, pengurus Kospin Jasa, para asatidz dan praktisi dari beberapa lembaga di Batang dan Pekalongan. Hadir pula dalam acara tersebut Bapak H. Sachroni selaku Sekretaris Umum Kospin Jasa dan H. Teguh Suhardi yang mewakili Ketua Umum Kospin Jasa yang berhalangan hadir.

Dalam sambutannya, H. Teguh Suhardi menyampaikan latar belakang diselenggarakannya acara yang diilhami dari pengalaman Kospin Jasa yang meneliti problem nasabah mereka yang bermasalah.

"2 dari 5 problem nasabah yang pinjamannya bermasalah adalah saat nasabah meninggal terjadi konflik di kalangan ahli waris dan pengusaha pemula" ujarnya.

Teguh membeberkan solusi bagi pengusaha pemula yang memulai usaha baru dengan cara meniru bisnis yang dijalani Rasulullah.

"Rasul itu dalam berusaha Beliau menjadi buruh dahulu, baru memiliki usaha sendiri meskipun masih dikerjakan sendiri. Selanjutnya beliau baru menjadi owner dan kemudian investor. Itu patut ditiru sebagai solusi bagi pengusaha pemula. Tetapi, kalau masalah konflik ahli waris, kita akan diberikan pencerahan hari ini oleh Ustadz Jabal Alamsyah" pungkasnya.

Sedangkan Kiai Anang dalam prolognya memberikan wawasan tentang Islamic Financial Planning. Beliau membukanya dengan sebuah pertanyaan: Mau diapakan harta kita?

"Mau diwariskan, diwakafkan atau dihibahkan? Jika tidak ada pilihan selama hidup, pasti diwariskan, waris itu pasti berlaku jika saat hidupnya tidak memilih apapun" terangnya.

Tetapi, lanjutnya, jika sebelum mati dia memilih mewakafkan sebagian hartanya, maka kemuliaan dunia akhirat ia peroleh. Inilah makna Islamic Financial Planning.

Seminar kemudian dilanjutkan dengan sesi pertama yaitu tentang waris oleh KH. MHD Jabal Alamsyah, Lc., MA. Menurutnya, seminar ini adalah bagian dari Roadshow Nasional menuju 1000 Keluarga Sadar Mawarits yang digagasnya.

Beliau menjelaskan waris melalui pendekatan akidah lewat konsep PSP (penentuan sebelum pembagian). Karena yang berkembang di masyarakat adalah pemahaman waris dengan pendekatan syariat, yaitu proses pembagian harta.

"Di masyarakat umum, kalau bicara waris konotasinya mau bagi-bagi harta, jadi mindsetnya dapat harta, maka saat dapatnya kecil bilangnya tidak adil, padahal itu ketentuan Allah dan Rasul-Nya" terang Jabal.

Menurutnya, dalam konsep PSP, saat ada kematian maka fardlu kifayah menentukan waris, sama seperti memandikan, mengkafani dan menguburkan.

"Jadi, segera tentukan, siapa ahli waris yang berhak, dan berapa bagian masing-masing, soal pembagian harta nanti dulu belum tentu juga hartanya ada" ujarnya.

Jabal melanjutkan bahwa setelah penentuan itu, maka tiba gilirannya adalah pembagian yang menurutnya bisa dilakukan kapan saja dan bisa dikompromikan.

"Jadi, kalau sudah masuk ke tahap pembagian, silahkan diskusi antar para ahli waris itu, mau dibagi sesuai penentuan tadi atau mau dibagi rata, atau mau dihibahkan kepada salah satu, atau mau diwakafkan" jelasnya.

Menurut lulusan UNISSA Brunai Darussalam ini, menunda penentuan waris akan menjadikan pembusukan ekonomi dalam keluarga, sebagaimana menunda pengurusan jenazah yang mengakibatkan pembusukan dan penyebaran penyakit dari jasad mayat.

"Banyak kasus terjadi, orang sudah meninggal sekian tahun lalu belum ditentukan warisnya, kemudian disusul dengan kematian-kematian berikutnya dari yang terkait warisan itu, sehingga ini masalahnya berlapis-lapis, akhirnya ribut karena saling klaim."

Maka, beliau membangun pemikiran para peserta seminar dengan mawarith mind yang di dalamnya terdapat filosofi, nilai-nilai dan perspektif pentingnya belajar mawarits. Salah satunya adalah konsep PSP.

"Dalam PSP itu kita bangun filosofi "why before what". Jadi kita belajar why dulu baru what dan baru belajar how to. Kita harus tau mengapa kita belajar ilmu waris" imbuhnya.

Dikatakannya, jika orang tidak tahu tujuan belajar ilmu waris, endingnya justru konflik keluarga, akhirnya harta waris tidak produktif dan malah bermasalah" tambah alumni Gontor tahun 1996 ini.

Setelah rehat untuk shalat Dzuhur dan makan siang, seminar kembali dilanjutkan dengan sesi kedua terkait wakaf yang disampaikan oleh KH. Anang Rikza Masyhadi, MA.

Beliau mengawali materinya dengan berbagai contoh dan gerakan wakaf para sahabat. Menurutnya, wakaf telah menjadi lifestyle bagi para sahabat.

"Para sahabat Nabi itu telah menjadikan wakaf sebagai lifestyle atau gaya hidup. Ada Abdurrahman bin Auf RA yang mewakafkan tanahnya untuk perluasan Masjid Nabawi, Utsman bin Affan yang membeli sumur seorang Yahudi untuk diwakafkan dan kemudian dimanfaatkan oleh kaum muslimin, dan masih banyak sahabat lainnya" terang Pimpinan PM Tazakka tersebut.

Beliau juga menjelaskan bahwa tidak ada satupun jejak peradaban yang tidak dibarengi dengan gerakan wakaf di dalamnya.

"Sepanjang sejarah peradaban Islam, wakaf sangat jelas memiliki peran sentral.  Contohnya yang sangat jelas adalah Al-Azhar University, di Kairo Mesir, Pondok Modern Gontor dan masih banyak lainnya" tandasnya.

Selanjutnya, beliau menjelaskan tentang ragam produk wakaf dan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Dalam _closing statemen_nya Kiai Anang menyampaikan Islamic Financial Planning selalu berkaitan dengan harta kita.

"Maka, mau dikemanakan harta kita ? Mau diwariskan atau mau diwakafkan atau dihibahkan? Kalau diwariskan, kita tidak akan memiliki. Kalau diwakafkan, maka pahalanya itu akan kita bawa sampai mati karena abadi" pungkasnya.

Sebagai penutup, H. Teguh Suhardi yang juga merupakan Ketua Panitia Pembangunan PM Tazakka menyampaikan epilognya dengan dua kata kunci mengelola wakaf yang dipegang oleh Tazakka.

"Dua kata kunci itu adalah amanah dan cita-cita. Amanah itu syarat wajib, tetapi cita-cita juga penting. Tanpa cita-cita tidak akan ada peradaban. Karena dengan cita-cita, sebesar dan sebanyak apapun harta wakaf pasti bisa diproduktifkan" tegas Teguh.

Acara kemudian diakhiri dengan sesi konsultasi, baik terkait wakaf maupun waris bagi para peserta yang memiliki problem dalam dua hal tadi maupun ingin belajar lebih dalam terkait waris dan wakaf.

@alam-mahardika - media-center-tazakka