Mantan Dubes RI di Amerika Kunjungi Tazakka

TAZAKKA - Mantan Duta Besar RI untuk Amerika, Sudjadnan berkunjung ke Pondok Modern Tazakka, Jumat (17/11). Sudjadnan yang juga pernah menjabat sebagai Dubes RI di Australia tersebut beserta keluarga besarnya diterima oleh Pimpinan Pondok Modern Tazakka KH. Anang Rikza Masyhadi dan Ketua-ketua lembaga lainnya.

Sesaat setelah diskusi singkat di Kantor Pimpinan tentang peran pesantren dalam membangun generasi muda pemimpin masa depan, rombongan diajak keliling pondok dan melihat beberapa bagian penting yang mendorong kemandirian pesantren.

Sudjadnan menyempatkan diri bersama keluarga mengikuti Sholat Jum'at di Masjid Az-Zaky Tazakka. Usai shalat, Pimpinan Pondok Kiai Anang mendaulatnya untuk memberikan sambutan dan motivasi singkat di depan seluruh santri dan guru serta puluhan walisantri yang kebetulan sedang menjenguk putra-putranya.

Dalam sambutan dan motivasinya kepada santri, mantan Sekjen Kemenlu RI tersebut menekankan pentingnya penguasaan bahasa.

"Saya mendengar di pondok ini mengggunakan bahasa Inggris dan Arab, baik sebagai pengantar pengajaran maupun komunikasi sehari-hari, ini modal dassr yang sangat fundamental bagi generasi masa depan dengan tantangan yang kompleks" ujarnya.

Menurutnya, bahasa adalah artikulasi, bagaimana mengekpresikan pendapat dan kemampuan diri kepada orang lain.

"Ketika bahasa Arab dan bahasa Inggris digabungkan di pesantren ini, maka saya melihat tanda tanda kesuksesannya akan besar" imbuhnya.

Diplomat jebolan UGM itu juga menyampaikan bahwa belajar di pesantren tidak sekedar belajar saja, namun pada saat yang sama sedang belajar ahlak, belajar hidup, belajar ilmu-ilmu agama sejak dini, yang akan memperkuat karakter kepribadian di masa depan.

"Justru agama inilah modal paling utama dan paling menentukan sikap pemimpin menghadapi tantangan masa depan, baik buruknya pemimpin ditentukan dari penghayatan agama itu, dan anak-anak ini saya yakin akan menjadi pemimpin masa depan yang saleh" terang peraih Master of International Affairs dari Columbia University, New York, AS.

Sudjadnan menekankan pula makna perbedaan bahwa perbedaan itu pasti ada, bagaimana mengelola keberbedaan dari sudut pandang  pendidikan dan keagamaan serta kebangsaan. "Dan saya melihat Tazakka adalah salah satu lembaga pendidikan pesantren yang mampu menjaga Indonesia dan keindonesiaan kita" kata Sudjadnan. 

"Saya yakin Tazakka akan menjadi pioner dalam memerankan wajah Indonesia. Indonesia perlu 100 seperti tazakka, lembaga pendidikan yang mendidik santrinya dengan bahasa, sains, agama, dan akhlak dalam menghadapi tantangan dunia ke depan" lanjutnya.

Di akhir sambutannya beliau menegaskan bahwa dirinya ingin bersama-sama Tazakka dalam mendirikan Tazakka di kota lain di Indonesia. @AamMahardika(MC)