Ujian di Tazakka Bukan Sekedar How To Know, But How To Be.

TAZAKKA - Hari-hari ujian di Pondok Modern Tazakka penuh dengan dinamika keilmuan dan learning society. Bagaimana tidak! Para santri menghabiskan hari-harinya di masa ujian dengan bacaan buku pelajaran, mereview materi yg telah diajarkan dan banyak lagi kegiatan yang menunjang santri untuk meningkatkan ilmu pengetahuan.

Semua kegiatan untuk sementara telah ditutup, termasuk olahraga pagi, ekstrakurikuler pengembangan minat dan bakat maupun kursus-kursus. Semuanya fokus pada belajar. Semua sudut pondok tiba-tiba berubah menjadi ruang baca. Jika ada yang jalan tanpa menenteng buku, itu termasuk pemandangan aneh.

Tidak itu saja, pada masa ujian para santri juga saling berlomba-lomba mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai ibadah, mulai dari zikir, sholat-sholat sunnah, puasa senin kamis, dan berbagai ibadah lainnya. Rumusnya: ikhtiar dan doa. Ikhtiar tanpa doa adalah kesombongan; doa tanpa ikhtiar adalah kemalasan.

Perlu diketahui, bahwa ujian di Pondok Modern Tazakka merupakan salah satu agenda besar yang tidak hanya melibatkan seluruh santri, akan tetapi juga melibatkan seluruh asatidz, bahkan kiai sebagai Pimpinan Pondok. Pelaksanaan ujian di Pondok Modern Tazakka dirancang sedemikian rupa oleh panitia ujian yang terorganisir dengan baik yang diberi kepercayaan oleh Bapak Pimpinan Pondok dan Bapak Direktur KMI.

Sebelumnya, panitia akan mendapatkan pengarahan langsung dari Pimpinan Pondok dan penjelasan teknikal dari Direktur KMI. Bagaimana membuat soal yang baik, sistem penilaian, sistem pelaksanaan, sistem kontrol, hingga pada sistem pengamanan dari kebocoran atau kecurangan.

"Ujian di Tazakka tidak hanya meliputi aspek akademik saja, akan tetapi ujian mental jauh lebih penting dari aspek akademik" tutur Pimpinan Pondok, KH. Anang Rikza Masyhadi, MA pada acara pengarahan kepada semua panitia dan pengawas.

Kedua aspek tersebut, akademik dan mental, menurutnya, menuntut santri dan asatidz untuk bersungguh-sungguh dan jujur dalam pelaksanaan ujian ini. Dan akan menindak tegas siapapun yang berlaku curang. Oleh panitia, santri yang mengikuti ujian didudukkan dalam satu bangku 3 santri dari tingkat kelas yang berbeda, bagaimana mungkin bisa nyontek?

Bagaimana dengan yang sakit dan sedang dirawat di Klinik atau rumah sakit? Tetap ikut ujian! Panitia yang akan mengantarkan soal-soal ujian kepadanya dan sekaligus mengawasinya saat mengerjakannya. Ya, ujian di klinik atau rumah sakit!

Kesempatan berbuat curang dalam ujian di Tazakka seems to be an impossible mission, pasalnya kiri kanan depan dan belakang dalam satu ruang kelas terdapat 3 sampai 4 pengawas yang "diharamkan" duduk oleh Bapak Direktur KMI. Apalagi mainan hp atau ngobrol sesama pengawas saat berlangsungnya ujian: haram hukumnya dalam kacamata sunnah pondok.

Jadi, tidak hanya santri saja yang diawasi, pengawas ujian di ruang-ruang pun tak luput dari ikut pantauan Majelis Guru atau Direktur KMI langsung. Baik santri ataupun guru, jika kedapatan berbuat curang dalam ujian, resikonya adalah dikeluarkan dari pondok!

Ujian yang dilaksanakan di Pondok Modern Tazakka tidak saja bertujuan mendidik santri-santrinya untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga sikap mental yang benar. Belajar bukanlah sekedar untuk ujian semata, namun ujian merupakan sarana untuk belajar. Falsafah yang selalu digaungkan ketika masa ujian adalah "Ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian".

Maka, ujiannya pun diselenggarakan dalam dua bentuk: lisan dan tulis. Dalam ujian lisan, setiap santri dipanggil satu per satu memasuki ruangan yang didalamnya telah ada dua orang guru yang siap mengujinya secara verbal selama kurang lebih 20 sampai 25 menit. Ya, mirip ujian tertutup promosi doktor.

Dalam ujian lisan, santri akan dinilai kemampuannya mengartikulasikan pikiran dan keilmuannya dalam verbal menggunakan bahasa asing: Arab atau Inggris.

Sedangkan pada ujian tulis semua bentuk soal adalah essay. Tidak akan ditemui soal ujian pilihan ganda (multiple choice). Dari jawabannya, kita dapat mengetahui sejauhmana santri mengekspresikan isi otaknya dalam lembaran-lembaran kertas jawaban. Bagi guru, tentu lebih enak mengoreksi jawaban multiple choice. Tapi, di Tazakka prinsip kita bukan "bagaimana enaknya", tetapi lebih kepada "bagaimana baiknya". Jika pilihan ganda kita tidak bisa mengukur kedalaman wawasan dan pengetahuan santri.

Dengan begitu ukuran dari ujian bukan sekedar mengukur pengetahuan, bukan sekedar angka-angka statistik berupa nilai-nilai akademik, tapi lebih dari itu mengukur cara berpikir dan sikap mental. Maka, meskipun nanti hasil ujian akademik nilainya bagus, namun apabila nilai pada raport mentalnya jeblok hal itu bisa membuatnya tidak naik kelas. Atau sebaliknya!

Para santri juga dididik jujur, percaya diri, menjadi diri sendiri, dan bangga dengan hasil dirinya sendiri. Selalu ditekankan, lulus atau tidak lulus, itu penting, tetapi lebih penting lagi adalah menyikapinya. Yang lulus dan mendapat nilai bagus tetapi salah menyikapinya, maka akan berdampak tidak baik. Yang awalnya gagal, akan tetapi jika menyikapi benar maka kegagalannya justru akan menjadi cambuk bagi rentetan keberhasilan-keberhasilan yang akan datang. Inilah aspek mental dari ujian yang selalu ditekankan.

"Itulah mengapa, di Tazakka ujian bukan sekedar how to know, tetapi lebih dari itu adalah how to be. To be honest, self confidence, etc" pungkas Kiai Anang mengakhiri pengarahannya di hadapan panitia dan seluruh guru.

Semoga Allah SWT melimpahkan taufik, hidayah, rahmat dan inayah-Nya kepada santri, guru dan pondok, dan memberikan kemudahan kepada santri dalam belajar dan menjawab soal-soal ujian, amin ya Robbal alamin. @richi