Fathul Kutub: Mencetak Generasi Mutafaqqih Fi Ad Dien

TAZAKKA - Salah satu program tahunan yang diagendakan oleh Kulliyatul Mu'allimin Al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Tazakka adalah kegiatan Usbuu'u ad-Diraasah fii Kutubi at-Turaast atau sering juga disebut dengan Fathul Kutub.

Program Fathul Kutub ini khusus diperuntukkan bagi siswa kelas 5 dan kelas 6. Pelaksanaannya dilaksanakan kurang lebih selama satu minggu dengan dibimbing oleh wali kelas dan juga oleh Majelis Guru.

Bagi siswa kelas 6, program Fathul Kutub dilaksanakan di semester pertama dengan pembahasan pada 4 materi, yaitu Tauhid, Tafsir, Hadits dan Fiqh. Adapun bagi siswa kelas 5, acara serupa diadakan di semester kedua.

Kegiatan ini merupakan implementasi dari salah satu motto pondok yaitu "Berwawasan Luas". Selain itu, program ini juga dalam rangka mengamalkan lima ayat pertama dari surat Al-'Alaq yang menekankan betapa pentingnya membaca dan mempelajari ilmu, khususnya ilmu agama.

Pekan Fathul Kutub sangatlah diperlukan, terutama bagi siswa kelas 6 yang sebentar lagi akan menjadi alumni. Mereka dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam ber-tafaqquh fid-din (mendalami ilmu agama) supaya kelak mampu menjadi mundzirul qoum.

Tak hanya itu, sebagai calon pemimpin umat, mereka juga akan menjadi rujukan orang atau tempat umat bertanya. Maka, mereka harus mumpuni dalam wawasan agama. Tak bisa dipungkiri bahwa kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan selalu menghadirkan sesuatu yang baru dalam kehidupan.

Tujuan Fathul Kutub setidaknya ada empat hal. Pertama, mengenalkan turast Islam. Supaya kelas VI merasakan luasnya khazanah keilmuan dan cakrawala pemikiran Islam. Dengan demikian mereka akan mengenal pula para ulama, kitab-kitabnya, metodologinya dan katalogisasinya. Minimal mereka memahami katalog pemikiran dalam Turast Islam.

Kedua, menumbuhkan etos ilmiah sebagaimana tradisi para ulama dahulu. Yaitu dengan membaca, meneliti dan menulis. Saat ini, kita tinggal menikmati saja hasil penelitian para ulama dahulu, padahal mereka setengah mati dalam meneliti dan menuliskannya. Ulama dahulu juga suka membaca dan menulis. Tetapi, Ulama sekarang sukanya ceramah tetapi tidak membaca dan tidak menulis.

Ketiga, belajar berijtihad, minimal mengenal ijtihadnya para ulama. Melalui Fathul Kutub ini seluruh peserta akan diberi masalah untuk dicarikan jawaban dan argumennya dalam Turast Islam. Maka, wawasan dan kemampuan mereka tentang pelajaran Usul Fiqh, Fiqh Muqarin, Nahwu, Sorof, Mustolah Hadis, Tafsir dan lain-lain akan diuji.

Keempat, mengukur kemampuan bahasa Arab. Karena Turas Islam hampir semuanya menggunakan bahasa Arab. Bukan hanya itu, kemampuan mereka dalam berbahasa Arab juga diuji saat menuliskan hasil pembahasan dan saat mendiskusikan hasil bahasannya.

Sebelum membahasa materi dan masalah yang diberikan, seluruh peserta terlebih dahulu diadakan pembekalan materi-materi pembahasan. Materi tersebut disampaikan oleh guru-guru yang ahli di bidangnya. Setiap pemateri menjelaskan cara menjawab permasalahan dan penulisannya sesuai dengan sistematika yang ditentukan untuk setiap materi.

Secara teknis mereka terbagi menjadi beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari 8 santri. Kemudian mereka membaca, meringkas, berdiskusi, dan memecahkan berbagai masalah dalam subjek Tafsir, Hadits, Tauhid, serta Fiqh.

Pada pencapaian selanjutnya, program ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi para santri yang mengikuti, agar mereka memiliki kepercayaan diri dalam menyampaikan argument yang sesuai dengan dalil-dalil Syar'i dan menghilangkan fanatisme kelompok, aliran dan madzhab. Serta menghapuskan image bahwa santri pondok modern tidak bisa membaca kitab kuning.

Acara kemudian ditutup dengan Diskusi Umum dengan petugas materi, mulai dari pemakalah, pembanding, moderator dan notulen diambil dari santri yang dipilih oleh pembimbing. Diskusi tersebut membahas salah satu permasalahan yang bersifat kekinian.

Demikianlah tradisi keilmuan, kemasyarakatan, dan keagamaan di pesantren sebagai jembatan menuju kejayaan masa depan umat.

@Farid_Subchan