TULISAN LEBIH TAJAM DARI PELURU; Ahmad Fuadi

Ahmad Fuadi yang terkenal dengan bukunya Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, ternyata terinspirasi kisah perjalanan kepenulisannya sejak masih mengenyam pendidikan di pesantren Gontor. Namun siapa sangka kalau ia awalnya tak mau masuk pesantren tersebut. “Sebetulnya saya masuk pesantren itu dipaksa oleh orang tua, khususnya oleh ibu saya. Waktu itu selulus tsanawiyah saya ingin masuk SMA. Namun ibu saya bilang, ‘Nak, kamu jangan masuk SMA, kamu masuk sekolah agama saja.’ Saya tak 

mau masuk sekolah agama karena tak mau jadi ustadz. Tapi kemudian yang menarik adalah ketika ibu saya bilang, ‘Terlalu banyak orang mengirim anak-anaknya masuk sekolah agama setelah anaknya tak lulus di mana-mana. Jadi tinggal sisa-sisa. Kalau begitu, bagaimana kita mengharapkan lulusan sekolah agama itu mutunya bagus kalau yang dikirimnya adalah bukan yang terbaik? Bagaimana umat Islam akan maju kalau pemimpinnya bukan dari umat yang terbaik?”

 

“Ibu saya bilang pada diri sendiri: kalau punya anak yang baik mutunya akan dikirim ke pesantren. Dan itu kenanya di saya. Karena waktu itu nilai saya bagus. Kemudian walaupun saya masih setengah hati namun pergi juga. Karena merasa patuh pada orang tua itu penting,” kata novelis berdarah Minang ini.  Di minang itu “kata ibu” sangat penting didengar. Di agama juga ada ungkapan: “Surga di bawah telapak kaki ibu.” Di Minang pun ada legenda Malin Kundang, kalau melawan ibu nanti jadi batu.

Semua hal itulah yang membuat Ahmad Fuadi mudah pergi ke Gontor mematuhi perintah orang tua.  “Memang berat dan jauh pula tempat yang harus dituju, dari Sumatera Barat ke Jawa Timur, tahun 1988 itu naik bus bisa tiga hari,” ucap Ahmad Fuadi mengenang.

Ketika sampai di Gontor, mata Ahmad “terbuka”. Pesantren atau sekolah agama itu bukan yang seperti ia bayangkan sebelumnya, yang terbelakang, mutunya tak bagus, hanya memproduksi ustadz. Akan tetapi kiai yang mengajarnya selalu bilang begini, “Ini bukan hanya sekolah agama, tapi ini juga sekolah untuk hidup menjadi manusia terbaik berdasarkan Islam. Jadi kamu bisa jadi siapa saja, tapi berpegang ke jalur agama,” ujar Ahmad menirukan ucapan kiainya.

Pengalaman di Gontor selama empat tahun baginya sangat memengaruhi kehidupannya, bagi pengembangan karakter, bisa melihat perspektif dunia yang luas, dan itu juga yang menjadi pencetus ide menuliskan novel Negeri 5 Menara, yang kemudian jadi film dan sekarang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris serta bukunya sudah ada di mana-mana.

“Saya pertama masuk ke sana dengan keraguan dan keterpaksaan, tapi setelah lulus itu bersyukur sekali karena mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Mendapatkan karakter luar biasa, guru-guru yang luar biasa, dan teman yang luar biasa. Teman kami datang dari seluruh penjuru Indonesia, sekitar 3.000 orang, plus dari luar negeri. Teman saya ada yang dari Austraia, Malaysia, Singapura, Suriname, dan Afrika. Kami ada di sebuah kampung kecil tapi kami merasa sebagai warga global. Itu yang membukakan pemikiran bahwa kita tidak dibatasi oleh geografis, kita bisa ke mana saja asal kita bersemangat penuh untuk menuntut ilmu serta bersungguh-sungguh. Maka di novel dan film itu ‘Man Jadda Wajada’, barang siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia yang berhasil. Itu diajarakan dari pertama,” tutur suami dari Danya Dewanti ini.

Waktu itu Ahmad paling sering diinspirasi oleh guru-gurunya yang kebanyakan lulusan Gontor dan sudah tersebar ke mana-mana. Ketika mereka kembali lagi, ada yang tamat dari Mesir, ada yang dari Madinah, ada yang ke Inggris. “Saya pikir-pikir, nanti saya ngapain, saya jadi apa? Salah satu hal yang paling saya ingat adalah saya ingin sekolah jauh menuntut ilmu sampai ke luar negeri. Nah waktu di Gontor ,saya juga gabung dengan majalah kampus. Jadi wartawan majalah kampus. Kebetulan di Gontor itu tamunya macam-macam, tokoh-tokoh penting di dunia, jadi kami belajar wawancarai tokoh-tokoh penting itu. Waktu itu terpikir juga mungkin jadi wartawan itu asyik. Dan ternyata setelah lulus kuliah, saya jadi wartawan  juga,” ungkap Ahmad.

Ketika masih kuliah itu cita-cita saya mau sekolah, menuntut ilmu ke mana-mana, mungkin salah satunya dengan jadi wartawan. “Tapi belum clear mau jadi apa sebenarnya, hanya semangat itu yang dipegang, semangat belajar, semangat bekerja luar biasa, dan kita jadi siapa saja asal bermanfaat.”

Kuliah Hubungan Internasional itu biasanya jalurnya jadi diplomat, tapi waktu itu Ahmad senang menulis, dan sewaktu di Gontor di majalah kampus, ustadz yang membimbingnya selalu membawa majalah Tempo. Teringat pesan sang ustadz, “Kalau mau menulis dengan bagus itu harus menulis seperti majalah ini (Tempo). Dan lalu Tempo ditutup, diberedel. Waktu saya lulus tahun 1998, Presiden Soeharto turun, kebetulan Tempo hidup lagi. Mereka buka pendaftaran, lalu masuklah saya. Jadi ada prosesnya, bukan karena dari awal mau ke sana, tapi mengarah ke sana (menjadi wartawan Tempo).”

Menulislah dengan dilandasi niat agar bermanfaat dalam kebaikan. .

Awal menulis tahun 2007-2008 waktu itu setelah pulang sekolah di Amerika dan Inggris, sudah kerja di VOA. Pria berkacamata ini berpikir bahwa impian-impiannya dulu waktu di pesantren sudah tercapai, bahkan lebih.  Inginnya hanya ke luar negeri,  eh malah bisa sekolah di empat negara berbeda. “Dahulu di Gontor suka dengarkan radio VOA, ada judulnya ‘Islam di Amerika’. Dulu suka berpikir: bisa ga yah ke sana?”

Yang terjadi adalah belasan tahun kemudian Ahmad benar-benar berada di sana, jadi penyiar di sana, bersebelahan dengan orang yang jadi penyiar yang dia dengarkan waktu “mesantren”.  Jadi impian-impiannya banyak yang tercapai. Ia lalu ingat kala sang kiai suka bercerita, “Kita di sini ukuran keberhasilannya antara lain orang yang mau berbagi ilmu atau orang yang bermanfaat bagi orang lain.” Setelah ingat nasihat kiai, bahwa sebaik-baik manusia adalah harus ada manfaatnya, Ahmad berpikir ulang: “Saya manfaatnya apa ya?”

Bermanfaat buat diri sendiri, sudah. Bermanfaat buat keluarga pun sudah, tapi tidak luas, sangat terbatas. “Saya lihat teman-teman saya ada yang sudah bikin pesantren, ada yang sudah berkiprah luar biasa. Kalau yang kaya bisa bagi-bagi hartanya untuk membantu orang. Kalau mereka punya kekuasaan, bisa membantu masyarakat. Saya kan bukan sangat kaya, tak punya juga kekuasaan, dan saya tak punya pesantren. Lalu bagimana ya cara bermanfaat luas? Terus saya ingat, saya bisa menulis. Mungkin dengan menulis bisa bermanfaat.”

Menulis yang bermanfaat, tentang pengalaman yang paling inspiratif dalam hidupnya, yaitu empat tahun di pesantren, adalah awal ia mulai menulis novel. Alasannya menulis tentang pesantren adalah karena pesantrenlah yang sangat memengaruhi hidup Ahmad Fuadi. Dalam cerita itu man jadda wajada merupakan salah satu tema serta semangat utama dari keseluruhan perjalanan kehidupannya.

Pesan dari peraih penghargaan Liputan6 Award, SCTV untuk Kategori Pendidikan dan Motivasi 2011 ini adalah, “Menulis itu lebih kuat dari peluru. Misalnya kalau orang ditembak, kemungkinan besar orang itu mati, tapi pelurunya hanya tinggal di kepala orang itu saja. Tapi kalau orang menulis tulisan yang kuat, satu tulisan atau satu kalimat atau satu kata itu akan menembus tak cuma satu kepala orang, bisa ratusan, bisa ribuan, bisa jutaan orang. Dan itu  luar bisa pengaruhnya bisa menggerakkan. Jadi menulis itu luar biasa kekuatannya. Menulis bikin awet muda. Awet muda karena umur kita akan jadi sangat panjang. Setelah kita meninggal, kalau tulisan kita baik dan bagus, itu terus dibaca orang. Contohnya saya masih baca buku di Gontor itu buku wajib karangan Ibnu Rusyd. Dia seorang filsuf di Spanyol, sudah meninggal seribu tahun yang lalu, tapi bukunya masih bisa dibaca. Dan itu amal jariyah yang luar biasa.” Menulislah dengan dilandasi niat agar bermanfaat dalam kebaikan. 

Kalau orang ditembak, kemungkinan besar orang itu mati, tapi pelurunya hanya tinggal di kepala orang itu saja. Tapi kalau orang menulis tulisan yang kuat, satu tulisan atau satu kalimat atau satu kata itu akan menembus tak cuma satu kepala orang, bisa ratusan, bisa ribuan, bisa jutaan orang.